Blog ini saya rasa dibuat untuk membantu mengatasi rasa penat kehidupan dan mengisi jiwa-jiwa kosong dan semu. Serta menggairahkannya dengan semacam Suplemen. Yang bisa didapat dari pengalaman maupun wawasan dan pemahaman baru. inilah Suplemen Kehidupan
Senin, 08 Agustus 2016
Kamis, 19 Maret 2015
Pertanyaan Filsafat
Jutaan pertanyaan yang terlontar dari anak-anak merupakan sebuah bukti bahwa anak-anak selalu penasaran serta ingin memnuaskan rasa ingin tahunya. Dari pertanyaan yang ringan, seperti mengapa kita harus mandi setiap hari, mengapa saya kecil sementara orang-orang lain kok lebih besar? Sampai pertanyaan-pertanyaan yang cukup berat seperti mengapa api panas dan es dingin, apakah ada makhluk hidup selain di Bumi? Bagi anak-anak, dunia dan segala yang dilihatnya itu adalah baru, sesuatu yang membangkitkan keheranan mereka. Ini tidak berlaku lagi bagi orang dewasa, kebanyakan dari mereka yang sudah dewasa melepaskan dan membiarkan keheranannya setahap demi setahap mati dan kemudian menganggap semua yang terjadi memang begitu adanya, tanpa perlu untuk diketahui asal muasal dan apa penyebab segala sesuatunya
#gobindvashdev – happinessinside
Selasa, 10 Maret 2015
Ngapain Bekerja ?
Ada satu pertanyaan yang hampir pasti ditanyakan jika saya
berjumpa dengan sabahat-sahabat lama atau teman-teman baru saya, yaitu apa
pekerjaan anda? Atau bekerja di mana? Sedang bisnis apa? Kedengarannya ini
pertanyaan mudah, tetapi perlu beberapa saat bagi saya untuk menjawabnya,
walaupun sudah ratusan kali saya mendapat pertanyaan yang sama. Entah mengapa
saya selalu kesulitan untuk spontan menjawabnya. Selalu muncul huruf “M” yang
panjang sebelum menjawabnya, seringkali saya jawab bahwa saya seorang
penganggur. Lalu sang penanya umumnya akan berkata, “Mana mungkin?”
Sejak kecil saya tidak pernah suka bekerja, belajar untuk
menghadapi soal-soal ujian nasional pun saya enggan, apalagi ujian biasa. Bahkan,
tidak jarang saya berjanji untuk tidak memegang lemari buku selama ujian
berlangsung. Namun walau tidak suka bekerja dan belajar, jangan diasumsikan
bahwa saya adalah anak yang malas. Dibalik semua “kemalasan bekerja”,
sebenarnya saya adalah anak yang sangat rajin untuk bermain. Buat saya tidak
ada kata “capek” untuk bermain atau melakukan yang saya sukai.
Saya sangat suka pergi ke suatu tempat yang baru, bertemu
dengan sesuatu yang baru, bereksplorasi dengan hal-hal yang belum pernah saya
ketahui sebelumnya. Ada jutaan pertanyaan di kepala saya jika menemui hal baru.
Sering saya kecewa karena banyak sekali pertanyaan-pertanyaan saya tidak
terjawab. Bahkan ketika saya menanyakannya pada orangtua atau guru di sekolah.
Berbagai jawaban saya dapatkan. Namun jawaban “emang begitu dari sananya,”
adalah jawaban yang paling gampang terlontar, karena tak bikin pusing.
Kemalasan saya ini berlanjut hingga dewasa, sampai sekarang
pun saya malas untuk bekerja.
Setelah lulus SMA, saya masuk ke Universitas hanya karena
terdorong suatu harapan baru, bahwa semua pelajaran yang membosankan sewaktu di
bangku sekolah tidak akan terulang. Seperti yang dapat diduga, saya keluar sebelum
menggembol gelar sarjana. Saat itu, dari Surabaya saya pindah ke Jakarta dan
ingin bekerja sekeras mungkin untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar
kemudian saya tidak usah bekerja lagi. Yang terpikir saat itu adalah peluang
apa yang ada dan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan rupiah.
Pagi sampai malam saya bekerja, saya tahu hati saya menangis
dan menjerit, tetapi saya tidak peduli. Yang ada dalam kepala ini hanya sebuah
pepatah yang saya yakin semua orang di negeri ini hafal luar kepala, yaitu “berakit-rakit
ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang
kemudian.”
Semangat ’45 bertahan pada tahun pertama. Tahun selanjutnya,
seperti kebanyakan orang yang telah lama bekerja di sebuah perusahaan, terbangun
karena bunyi jam weker pukul 6 pagi, mata yang berat, badan terasa pegal. Otak kita
pun mulai berperang antara satu bagian dan lainnya, yang satu berkata, “Ayo
bangun, sudah pagi, gerakkan badanmu supaya sehat.” Yang satunya dengan lembut
membujuk, “Tidurlah 5 menit lagi, kau kerja terlalu berat, tubuhmu perlu istirahat.”
Setelah itu saya bangun dengan mata yang terbuka setengah dan menyeruput kopi
sebagai sarapan sekaligus dopping. Tidak
lama kemudian teringat akan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan dan
janji yang harus ditepati. Hhh … inikah hidup? Seperti inikah hidup yang harus
setiap orang jalani? Apakah ada kehidupan yang lebih baik?
Setiap kali ada dorongan kuat untuk meninggalkan semua ini
dan menjalani hidup sesuai keinginan, setiap kali itu pula timbul perasaan sayang
jika semua yang telah dirintis harus ditinggalkan. Saldo tabungan yang meninggi
setiap bulannya benar-benar telah menjadi bola besi yang terpasung di kaki ini.
Saya tahu gaya hidup saya sangat kacau, dan mengorbankan
banyak hal termasuk kesehatan dan yang paling parah adalah mengorbankan
kedamaian pikiran. Padahal jika
dipikir-pikir, apapun yang kita lakukan dalam mencari kesenangan atau
mengumpulkan materi tujuannya adalah untuk mendapatkan kedamaian pikiran. Namun
pada saat itu saya seolah-olah tidak sanggup untuk melepaskan, ada sisi lain
dari dalam diri yang berkata, “Korbankan sebentar, nanti kau akan bahagia
selamanya.”
Saya yakin banyak dari kita yang mengalami yang saya alami,
merasa bosan dengan rutinitas seperti robot. Kita melakukan hal yang sama
setiap harinya. Hidup terasa tanpa makna, tanpa sesuatu yang benar-benar
memuaskan jiwa. Jikapun kita meminta cuti untuk liburan dan refreshing ke suatu tempat yang baru,
itu hanya sekedar kebutuhan fisik dan pikiran sesaat. Dan yang menarik, setelah
selesai liburan, muncul kemalasan seperti halnya anak kecil yang esok harinya
akan masuk sekolah setelah libur panjang.
Nasib baik mendatangi saya, apa yang saya kumpulkan selama
bertahun-tahun hilang dalam hitungan bulan, saya tidak akan membahas hal itu,
itu tidak begitu penting. Yang lebih penting adalah pelajaran yang mencerahkan
diri saya setelah peristiwa itu.
Pada awalnya memang sangatlah berat, jendela masa depan
terasa sudah tertutup rapat. Saya seolah-olah merasakan perasaan para miliarder
yang pada awal krisis moneter 1997 tiba-tiba menjadi miskin sekali, bahkan
lebih miskin dari pengemis di jalan karena banyaknya utang yang ditanggung. Dalam
dunia yang serba tidak pasti ini, apapun dapat terjadi.
Kesibukan yang sebelumnya tiada henti berganti dengan
hari-hari yang saya habiskan dengan merenung dan merenung. Handphone yang
sebelumnya berdering setiap beberapa menit kini hening. Namun dalam perenungan
itu, saya mendapat begitu banyak inspirasi, pencerahan. Saat seperti inilah
yang mungkin disebut moment “Aha!” oleh banyak penyair, pencipta lagu, serta
ilmuwan seperti Einstein dalam menemukan rumus spektakulernya, E=MC².
Saya tersadar bahwa apa yang manusia kumpulkan
bertahun-tahun dapat hilang dalam hitungan detik. Apa yang kita pelajari dan
kita diyakini sebelumnya dapat menjadi salah total. Dan yang lebih penting
lagi, saya belajar bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Ya, saya ingin
memastikan dengan mengulangi lagi bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Kita
ingin bahagia atau tidak itu pilihan kita. Terus terang, memang tidak gampang
menerima konsep ini. Saya dapat mengerti jika banyak pembaca yang tidak setuju.
Kita telah terhipnosis oleh lingkungan kita sehingga kita merekatkan
kebahagiaan dengan sesuatu di luar. Seperti saya akan bahagia jika mempunyai
deposito yang bunganya dapat menghidupi diri saya atau bahagia jika sudah
mendapatkan pasangan hidup.
Kita sering mengacaukan kebahagiaan dengan kesenangan
duniawi. Kesenangan luar inilah yang kita kejar, bukan kebahagiaan yang di
dalam. Terus terang kita sudah kehilangan arah, Socrates pada 25 abad yang lalu
telah mengatakan, “Gnothi seauton
(Kenali dirimu),” sebuah kata yang sederhana, tetapi maknanya sangat
mendalam. Setahu saya kalimat ini juga dikatakan orang-orang suci yang datang
ke dunia ini. Apa yang ingin dikatakan Socrates adalah: kita terlalu berorientasi
ke luar.
Kita lupa menengok ke dalam, kita tidak menyadari bahwa
setiap orang mempunyai misi individu. Pernahkah
kita bertanya kepada diri sendiri, apa misi kita dalam hidup ini? Pastinya,
kita bukan hidup untuk sekedar lahir, menikah, meneruskan keturunan, dan pulang
kembali.
Mengenal diri sendiri merupakan kunci penting untuk membuka
pintu untuk melangkah dalam hidup ini. Dengan bertanya pada hati kita misi
hidup ini dan apa yang benar-benar kita inginkan untuk meraihnya, tujuan kita
akan jelas. Dari sini kita dapat hidup
dan bekerja karena pilihan, bukan peluang. Memang sulit awalnya untuk mengetahui misi kita, karena pikiran kita terbiasa
berfokus keluar, bukan ke dalam. Namun mungkin kita dapat memulai dengan
bertanya pada diri sendiri, pekerjaan apa yang senang kita lakukan walau tanpa
dibayar sekalipun.
Jika kita sudah dapat menjawabnya, sebenarnya kita sudah
mulai mengenal diri sendiri. Dan langkah selanjutnya adalah melakukan keinginan
hati, atau yang sering kita dengar “ikuti kata hatimu,” lakukan apa yang hati katakan,
kerjakan dengan sepenuh hati, kepuasan pun akan datang.
Paolo Coelho, dalam buku masterpiece-nya,
The Alchemist, menulis dengan
indahnya, “Di mana hatimu berada di
sanalah hartamu terletak.” Jika seseorang bekerja sesuai panggilan hatinya,
sebenarnya orang tersebut sudah dapat dikatakan tidak bekerja, karena dia hanya
melakukan apa yang disukainya. Sejak saat itu, saya bertekad untuk bekerja
hanya pada panggilan hati saya.
Saya sangat suka berbagi pengetahuan, dan saya senang sekali
jika dapat memberikan sesuatu yang saya pikir berguna untuk seseorang. Itulah yang
membuat hati saya bahagia, tetapi apakah saya dapat hidup hanya dengan
melakukan itu? Terus terang pada awalnya banyak keraguan dan ketakutan. Keraguan
mengingat banyaknya tawaran menggiurkan datang kepada saya untuk bekerja dan
tinggal di Jakarta dengan gaji awal yang dapat dikatakan cukup tinggi. Ini makin
memperbesar ketakutan apakah saya dapat bertahan dengan berbagi?
Dunia kita ini terlalu dan selalu berfokus pada apa yang bisa
kita dapatkan sebelum melakukan pekerjaan. Hukum ekonomi yang semua orang
pelajari berbunyi pengeluaran sekecil-kecilnya dan pendapatan yang
sebesar-besarnya. Kita lupa bahwa sebelum kita memetik hasil, kita harus
menanam dulu, jika kita ingin lebih maka kita harus melakukan lebih. Inilah yang
dikatakan Oprah Winfrey pada 26 tahun yang lalu sewaktu dia memulai program talk show-nya yang mendunia. Bill Gates
pun merintis Microsoft dengan susah payah dalam garasi rumahnya.
Hal ini mengingatkan saya pada pidato terkenal dari mendiang
John F Kenedy, “Jangan tanyakan apa yang
dapat Negara berikan kepada anda, tetapi tanyakan apa yang bisa anda berikan
kepada Negara.” Pelayanan apa yang dapat saya berikan untuk membuat dunia
lebih baik, nilai tambah apa yang dapat saya wujudkan untuk perkembangan
manusia? Inilah yang seharusnya menjadi fokus kita semua. Jika kita percaya
bahwa Pencipta kita adil, seharusnya kita tidak takut untuk berbuat lebih,
bukan?
Yang menarik lagi, ketika kita fokus pada hasrat dalam diri
sendiri dan fokus pada apa yang dapat kita berikan, kita tidak takut dengan
persaingan. Kita sadar bahwa setiap individu adalah unik. Ketika kita dapat menggali dan menemukan keunikan dalam diri lalu
menggunakannya dengan fokus “memberi”, kepuasan akan bertamu dalam diri kita.
Nah, sekarang percaya kan jika saya tidak bekerja, saya
hanya melakukan apa yang benar-benar saya suka. Saya suka sekali berbagi. Saat ini
saya berbagi melalui tulisan di majalah Psikologi
Plus. Selain dari itu, saya juga berbagi melalui pelatihan stress management dan motivasi serta berbagi
dalam talkshow mingguan di Radio Duta
FM di Bali.
Suatu hari saya benar-benar kebingungan sewaktu harus
mengisi sebuah formulir berbahasa inggris yang harus mencantumkan pekerjaan
saya. Karena tidak boleh diisi dengan jobless
(penganggur). Dengan bangga saya mengisinya dengan heartworker. J
#gobindvashdev – happinessinside
Body and Mind
Pasti banyak dari pembaca akhir-akhir ini sering mendengar
istilah “Body and Mind” atau “tubuh
dan pikiran”. Banyak juga yang mengerti bahwa keduanya mempunyai hubungan yang
sangat erat. Dari waktu yang tak terhitung lamanya, dalam kitab-kitab kuno
seperti Ayurveda, hubungan keduanya telah tertulis dengan sangat jelas. Bahkan Socrates
2.400 tahun yang lalu pernah berkata, “Adalah
suatu kesalahan jika memisahkan antara tubuh dan pikiran”.
Kita semua tahu bahwa
setiap pikiran dan emosi yang membungkusnya mempunyai efek yang langsung pada
tubuh. Jika anda merasa sedih, tubuh anda akan terasa lemah, malas, wajah
mengerut, gerakan cenderung melambat, dan secara postur, tubuh akan menunduk,
tangan terlipat. Lalu jika anda sedang senang atau gembira, tubuh akan merasa
penuh energy, tersenyum, melihat ke atas, dada dan tangan terbuka. Namun,
tahukah anda bahwa hal sebaliknya pun dapat terjadi? Bahwa setiap gerakan yang
kita lakukan mempengaruhi perasaan kita. Nah, disini mungkin pembaca akan
bingung dan bertanya dalam hati, “Apa mungkin gerakan mempengaruhi perasaan?”
Sebelum pembaca berbingung ria dan penasaran, mari kita
lakukan sebuah eksperimen kecil di bawah ini.
Pertama, dengan posisi duduk, cobalah anda melipat tangan
anda kemudian geser pinggul anda sedikit ke depan tetapi punggung tetap
bersandar sehingga duduk anda tidak tegak lagi. Kemudian merunduklah dan buat
wajah anda berkerut tanpa senyum. Biarkan beberapa detik dalam keadaan
tersebut. Sekarang, cobalah ingat-ingat peristiwa yang membahagiakan tanpa
mengubah posisi tubuh dan wajah anda. Bisa? Sangat sulit sekali, bukan?
Sekali lagi, cobalah hal yang sebaliknya. Berdirilah, ambil
selangkah maju dengan kaki kiri anda. Sambil melihat ke atas, angkat kedua tangan
anda setinggi dan selebar mungkin sehingga tubuh anda menyerupai huruf “Y”,
tersenyumlah dengan lebar dan cobalah berpikir tentang kesedihan. Sekali lagi,
apakah dapat anda berpikir sedih dalam posisi tersebut?
Kedua eksperimen tadi telah membuktikan bahwa hubungan
antara tubuh dan pikiran bukanlah satu arah melainkan dua arah. Tidak hanya
setiap pikiran dan perasaan mempengaruhi mekanisme tubuh, tetapi juga setiap
gerakan tubuh atau fisiologi kita juga mempengaruhi pikiran dan perasaan kita. Setiap
otot yang berada dalam tubuh mempunyai hubungan yang langsung ke otak. Setiap gerakan
juga berpengaruh pada system endokrin atau hormonal dalam tubuh yang bertanggung
jawab terhadap perasaan kita.
Gerakan tersenyum misalnya, akan membuat kelenjar pineal
dalam otak mengeluarkan hormon endorphin,
yaitu zat sejenis morfin alami yang kekuatannya 200 kali dari morfin buatan. Endorfin ini membuat perasaan menjadi
senang dan bahagia.
Sebuah survey dilakukan tentang senyuman, dan hasil
penelitian tersebut mengungkapkan bahwa anak-anak tersenyum dan tertawa
rata-rata 300 kali dalam sehari. Sementara yang mengejutkan, rata-rata orang
dewasa tertawa dan tersenyum hanya 15 kali dalam sehari. Penelitian ini
mengungkap rahasia mengapa anak-anak lebih bahagia dan senang dibanding orang
dewasa.
Sementara gerakan bersujud yang hampir dilakukan semua umat
beragama atau kepercayaan dalam berdoa (atau dalam Yoga disebut child pose / pose anak), diteliti mampu
membawa seseorang dalam keadaan relaks. Posisi ini juga membuat darah mengalir
ke beberapa bagian dalam otak yang tidak dapat dijangkau dalam posisi gerakan
lainnya. Hubungan tentang gerakan tubuh dan pikiran inilah yang juga
menjelaskan mengapa setelah berolahraga pikiran akan merasa nyaman.
Kurang Gerak
Ada banyak sebab mengapa penduduk bumi ini semakin cepat
terkena stress. Salah satunya adalah kurangnya gerak. Semakin lama dunia
semakin memanjakan manusia. Teknologi seringkali membuat orang menjadi jarang
menggunakan kemampuan ototnya untuk bekerja.
Lihatlah di pagi hari sewaktu kita mandi, dahulu orangtua
kita menimba air di sumur, sekarang kita tinggal memutar keran dan air sudah
mengucur dari lubang shower. Dahulu manusia
pergi dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan atau bersepeda, sekarang
sepeda motor dan mobil yang ada di garasi menggantikannya. Naik turun tangga
digantikan oleh lift dan tangga berjalan. Bahkan banyak dari sahabat sulit
untuk meulis dengan tangan karena mesin tik dan tombol-tombol HP telah
menggantikannya.
Laju kehidupan bergerak lebih cepat, tetapi kita semakin
jarang bergerak, sementara kalori yang kita lahap jauh dari yang kita butuhkan.
Tumpukan energy dari makanan yang kita konsumsi dan tak
tersalurkan ini menjadikan sumbatan dalam keseimbangan tubuh kita, dan banyak
gangguan fisik dan ketegangan batin sangat mungkin berawal dari
ketidakseimbangan ini.
Ubah Gerak
Sekarang jika sudah mengetahui bahwa tubuh dan pikrian
adalah satu kesatuan dan juga setiap gerakan mempengaruhi pikiran. Pertanyaannya,
lebih mudah mana, mengubah perasaan atau mengubah gerakan? Pasti jawabannya
adalah lebih mudah mengubah gerakan bukan? Ya, jadi ubahlah gerakan anda maka
perasaan akan berubah.
Tulisan ini mungkin juga menjawab pertanyaan mengapa sahabat-sahabat
yang rutin berlatih yoga, tai chi atau teknik gerakan lain mengalami
hidup yang lebih damai dan nyaman. Anthony Robbins, pelatih sukses nomor satu
dunia pernah berkata, “Our emotion is
created by our motion.”
Emosi kita diciptakan oleh gerakan kita atau gerakan kita
mempengaruhi emosi kita.
Berjalan kaki selama 30 menit selain menyehatkan juga akan
membuat perasaan galau hilang. Untuk mengusir kecemasan atau kerisauan, coba
paksa diri anda untuk tersenyum selama dua menit, dan rasakan hasilnya.
Awalnya mungkin ini akan terasa aneh, serasa tidak lazim. Namun
jangan khawatir, semua hal yang pertama kita lakukan juga pasti terasa aneh. Pada
awalnya paksakan diri anda, dan lama-lama ini akan menjadi kebiasaan yang
bekerja di bawah sadar anda.
Hidup ini indah karena kita mempunyai kebebasan untuk
memilih. Namun, setiap pilihan tidak selalu berujung pada sesuatu yang kita
harapkan. Kadang kala, angin berembus terlalu kencang dalam pikiran kita
membuat emosi bangun dan meluap. Kita bisa marah dan menyesal setelahnya atau
kita bisa memilih untuk berjalan cepat selama 30 menit. Di kala kesedihan
berkunjung, kita pun punya pilihan untuk duduk merunduk atau melihat ke atas
dan tersenyum.
Semua adalah pilihan anda … have a wonderful life!
#gobindvashdev – happinessinside
Senin, 09 Maret 2015
Saatnya Belajar dari Wanita
Secara umum, manakah yang lebih rentan stres, pria atau
wanita? Pertanyaan ini sering muncul dalam pelatihan stres management yang biasa saya lakukan. Sebuah pertanyaan singkat
yang sederhana, bukan? Namun jawabannya, hmmm … tidaklah sesederhana itu.
Pada umumnya, wanita lebih gampang terkena stres, tetapi
saya sangat menyarankan setiap pria untuk belajar menyikapi stres dari wanita.
Lhoi kok? Ya, dan inilah sebenarnya rahasianya, pencipta kita sangatlah adil.
Dia menciptakan kekuatan dan kelemahan dalam satu kesatuan. Kekuatan dan
kelemahan yang sering kita pandang sebagai hal yang berlawanan sebenarnya
saling melengkapi.
Di dalam setiap kekuatan tersimpan kelemahan, dan juga
sebaliknya. Banyak yang memandang kecilnya seekor semut adalah kelemahan, tetapi
karena kecil maka semut bisa masuk ke tempat yang tak terjangkau oleh binatang
lain.
Begitu pula dengan wanita, banyak sekali yang melihat
sebagai kaum yang lemah. Saya pribadi melihat dengan cara berbeda 180 derajat
dari kebanyakan sahabat. Sejak kecil saya selalu mengagumi sosok wanita, saya
melihat banyak kemampuan wanita yang harus saya pelajari dalam kehidupan ini.
Setelah beribu tahun pria menjadi panutan, wanita telah
belajar banyak dari pria dalam berbagai bidang, bukankah sudah seharusnya pria
juga harus belajar dari wanita? Saya percaya, jika pria belajar dari wanita
bagaimana menghindari atau menyikapi kejadian pemicu stres yang datang, pria
akan mendapatkan hidup yang lebih berkualitas. Tulisan ini dibuat bukan
dimaksudkan membandingkan mana yang lebih baik. Namun, lebih untuk pemahaman
yang lebih tinggi antara keduanya. Walau terkesan tulisan ini hanya untuk pria,
sebenarnya wanita dapat mempelajari tentang dirinya lebih dalam dan lebih
memahami mengapa dirinya berbeda dengan pria.
Fisiologi
Secara fisiologis, otak wanita lebih kecil daripada otak
pria. Meski lebih kecil, otal wanita bekerja 7-8 kali lebih keras dibanding
pria pada saat menghadapi sebuah masalah. Di samping itu, ada sebuah jembatan
antara otak kanan dan otak kiri, jembatan ini disebut corpus callosum. Jembatan pada pria lebih tipis dan jarang,
sedangkan pada wanita jembatan ini lebih tebal dan lebih banyak 30%. Jembatan
yang lebih tebal ini memungkinkan wanita memandang sebuah persoalan lebih lebar
dan menghubungkan satu hal dengan hal lainnya. Ini membuat sebuah permasalahan
menjadi lebih kompleks.
Sementara itu, seringkali menurut para pria hal satu dan
yang lainnya tidak berhubungan. Selain secara mental, dalam memandang sebuah
persoalan, secara fisik pun hal yang sama terjadi. Ini pun berlaku pada lebar
tidaknya pandangan mata antara pria dan wanita. Wanita memandang lebih lebar
sedangkan pria lebih sempit. Oleh karena itu, jika seorang pria melihat wanita
cantik lewat harus memutar lehernya, sementara wanita yang memandang pria
ganteng cukup dengan melirik saja. J
Bukti lain dapat dilihat dalam sebuah survey kecelakaan para
pengemudi pria dan wanita. Pada mobil atau kendaraan yang dikemudikan oleh
pria, bagian yang sering kena benturan adalah kanan dan kiri, sementara wanita
depan dan belakang. Ini sebabnya wanita agak sulit untuk memarkirkan mobilnya.
Selain secara struktur otak, yang menyebabkan wanita lebih
mudah stres, ternyata seorang wanita, memiliki keinginan untuk tampil menjadi
wanita sempurna. Menjadi ibu yang welas
asih, istri yang menggairahkan, menjadi tetangga yang baik atau bos yang
berwibawa. Menurut Simoner de Beauvoir, seorang pelopor feminisme modern, dalam
bukunya Second Sex, keinginan itu
bukan berasa dari luar melainkan dari dalam diri wanita. Inilah yang membuat
wanita cenderung lebih stres.
John Gray Ph.D. yang mendunia dengan seri bukunya Men are from Mars and women are from Venus juga
mengatakan wanita ingin selalu menyenangkan orang lain, mereka ingin selalu
memberikan, tetapi tidak memberi diri sendiri dengan cukup. Semua ini membuat
wanita sering kewalahan dan menderita stres yang tinggi. Belum lagi jika
ditambah kondisi hormonal yang tidak seimbang sebelum menstruasi.
Dari fakta-fakta yang ada tersebut, dapat disimpulkan
sementara bahwa wanita mengalami stres yang lebih besar daripada pria. Namun
menariknya, 2/3 populasi yang mengkonsumsi alkohol adalah pria., 80% yang
menggunakan narkotika dan obat terlarang adalah pria, 90% yang menghuni lembaga
permasyarakatan atau penjara adalah pria. Lalu walau percobaan bunuh diri tiga
kali lebih banyak dilakukan oleh wanita, tetapi empat dari lima orang yang
melakukan bunuh diri adalah pria. Aneh bukan? Mengapa yang mengalami stres wanita
dan yang melakukan tindak kriminal adalah pria? Mengapa yang depresi lebih
banyak wanita dan yang bunuh diri lebih banyak pria?
Di bawah ini adalah tiga dari banyak perangkat lainnya yang dipergunakan
oleh wanita dalam menghadapi stres. Sekarang saatnya belajar dari wanita.
Berbagi
Disinilah sebenarnya kaum adam dapat belajar banyak dari
kaum Hawa. Pria sudah seharusnya mulai menghilangkan pola budaya turun-temurun,
bahwa setiap masalah dapat “dibereskan” sendiri. Memendam dan memikirkan
sendiri masalah sama seperti menyimpan bom yang sewaktu-waktu dapat meledak.
Setiap wanita secara alami senang mencurahkan kejadian
sehari-hari dalam hidupnya, baik itu masalah atau kejadian yang menyenangkan. Inilah
yang biasa disebut “curhat”. Wanita bericara tanpa mengharapkan solusi. Mereka berbicara
untuk melepaskan apa yang dirasakan dalam dirinya, dan ini menjadikan wanita
lebih ringan dalam menjalani hidupnya.
Dalam keadaan stres, wanita berbicara tanpa berpikir. Karena
itulah 90% dari penghuni penjara adalah pria dan 90% yang datang ke psikolog
adalah wanita. Menurut survey setiap hari wanita mengeluarkan sekitar 20.000
kata, sedangkan pria hanya 7.000 kata. Wanita suka sekali berbicara dengan sesama
jenis, ini karena otak pria tidak didesain untuk mendengar. Namun kurangnya
keterampilan mendengar bukannya tidak dapat diubah, keterampilan ini dapat
dikuasai pria dengan latihan.
Menangis
Selain berbicara, wanita juga mengeluarkan emosinya dengan
menangis. Namun, hal ini dipandang tabu oleh sebagian besar pria. Ada sebuah hukum
yang tidak tertulis dalam budaya pria, bahwa pria tidak boleh menangis. Menangis
adalah untuk wanita, untuk kaum yang lemah.
Bagi saya, menangis bukanlah hak kaum wanita saja, menangis
adalah hal yang sangat manusiawi. Sama seperti tertawa, menangis adalah sebuah
luapan emosi. Jika emosi sudah mencapai titik tertentu, air mata muncul untuk
meredakan perasaan yang bergejolak itu.
Teringat saya dengan Viktor Frankl, seorang penemu logotherapy yang pernah dipenjara di
kamp konsentrasi Auswitch. Seluruh keluarganya dibunuh kecuali saudara
perempuannya. Dalam bukunya, Frankl berkata, “Ada banyak penderitaan yang harus kita jalani. Karenanya, kita perlu
menghadapi seluruh penderitaan kita, dan berusaha menekan perasaan lemah dan
takut. Akan tetapi kita juga tidak perlu malu untuk menangis, karena air mata
merupakan saksi dari keberanian kita untuk menderita.”
Pelukan
Yang satu ini juga jarang dilakukan oleh pria, pelukan adalah
obat termurah selain tertawa. Begitu banyak penelitian tentang pelukan dan
semuanya membuktikn bahwa pelukan akan merangsang hormon oxytocin (sebuah hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan
kedamaian) keluar dan sekaligus menekan cortisol
dan norepinephrine (hormon pemicu stres).
Selain itu, oxytocin juga baik untuk
jantung dan pikiran kita.
Di Kansas, Amerika Serikat, Dr. Harold Voth, seorang
psikiater senior, telah melakukan riset dengan beberapa ratus orang. Hasilnya,
mereka yang berpelukan mampu mengusir depresi, meningkatkan kekebalan tubuh,
awet muda, tidur lebih nyenyak, dan lebih sehat. Kulit adalah organ tubuh yang
terbesar, dan dibawahnya terdapat begitu banyak kelenjar-kelenjar yang aktif
dan mengeluarkan hormon kekebalan jika disentuh.
Ada kecenderungan, semakin dewasa seseorang semakin jarang
sentuhan melekat di tubuh ini. Seorang bayi selalu dalam pelukan, seorang anak kaya
akan sentuhan orang-orang di sekitarnya, tetapi setelah dewasa sentuhan semakin
jarang. Bahkan jabat tangan dan cium pipi belum tentu setiap saat dilakukan
setiap bertemu teman. Seorang terapis keluarga yang sangat saya kagumi,
Virginia Satir, mengatakan, “Untuk bertahan hidup, kita membutuhkan empat
pelukan sehari. Untuk keseharan, kita butuh delapan pelukan per hari. Untuk pertumbuhan,
awet muda, kebahagiaan, kita perlu 12 pelukan per hari.”
Saya sangat mengerti jika otak pria tidak didesain untuk
berbagi, apalagi mendengar. Saya juga tahu jika hormon pria dan wanita sangat
berbeda sehingga menyebabkan pria susah untuk berekspresi berlebihan seperti
menangis. Saya juga menyadari jika kulit pria tidak terlalu peka dibandingkan
kulit wanita. Namun, semua bukanlah harga mati yang tidak dapat diubah, kita
dapat pelajari apa yang terbaik dari wanita. Saya yakin, kita dapat merasakan
perubahan setelah kita sadar dan mempraktekannya.
Akhir kata, selamat berbagi, menangis, dan berpelukan
#gobindvashdev – happinessinside
Langganan:
Postingan (Atom)