Kamis, 19 Maret 2015

Pertanyaan Filsafat


Jutaan pertanyaan yang terlontar dari anak-anak merupakan
sebuah bukti bahwa anak-anak selalu penasaran serta ingin memnuaskan rasa ingin
tahunya. Dari pertanyaan yang ringan, seperti mengapa kita harus mandi setiap
hari, mengapa saya kecil sementara orang-orang lain kok lebih besar? Sampai
pertanyaan-pertanyaan yang cukup berat seperti mengapa api panas dan es dingin,
apakah ada makhluk hidup selain di Bumi? Bagi anak-anak, dunia dan segala yang
dilihatnya itu adalah baru, sesuatu yang membangkitkan keheranan mereka. Ini
tidak berlaku lagi bagi orang dewasa, kebanyakan dari mereka yang sudah dewasa
melepaskan dan membiarkan keheranannya setahap demi setahap mati dan kemudian
menganggap semua yang terjadi memang begitu adanya, tanpa perlu untuk diketahui
asal muasal dan apa penyebab segala sesuatunya

#gobindvashdev – happinessinside

Selasa, 10 Maret 2015

Ngapain Bekerja ?

Ada satu pertanyaan yang hampir pasti ditanyakan jika saya berjumpa dengan sabahat-sahabat lama atau teman-teman baru saya, yaitu apa pekerjaan anda? Atau bekerja di mana? Sedang bisnis apa? Kedengarannya ini pertanyaan mudah, tetapi perlu beberapa saat bagi saya untuk menjawabnya, walaupun sudah ratusan kali saya mendapat pertanyaan yang sama. Entah mengapa saya selalu kesulitan untuk spontan menjawabnya. Selalu muncul huruf “M” yang panjang sebelum menjawabnya, seringkali saya jawab bahwa saya seorang penganggur. Lalu sang penanya umumnya akan berkata, “Mana mungkin?”

Sejak kecil saya tidak pernah suka bekerja, belajar untuk menghadapi soal-soal ujian nasional pun saya enggan, apalagi ujian biasa. Bahkan, tidak jarang saya berjanji untuk tidak memegang lemari buku selama ujian berlangsung. Namun walau tidak suka bekerja dan belajar, jangan diasumsikan bahwa saya adalah anak yang malas. Dibalik semua “kemalasan bekerja”, sebenarnya saya adalah anak yang sangat rajin untuk bermain. Buat saya tidak ada kata “capek” untuk bermain atau melakukan yang saya sukai.

Saya sangat suka pergi ke suatu tempat yang baru, bertemu dengan sesuatu yang baru, bereksplorasi dengan hal-hal yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Ada jutaan pertanyaan di kepala saya jika menemui hal baru. Sering saya kecewa karena banyak sekali pertanyaan-pertanyaan saya tidak terjawab. Bahkan ketika saya menanyakannya pada orangtua atau guru di sekolah. Berbagai jawaban saya dapatkan. Namun jawaban “emang begitu dari sananya,” adalah jawaban yang paling gampang terlontar, karena tak bikin pusing.

Kemalasan saya ini berlanjut hingga dewasa, sampai sekarang pun saya malas untuk bekerja.
Setelah lulus SMA, saya masuk ke Universitas hanya karena terdorong suatu harapan baru, bahwa semua pelajaran yang membosankan sewaktu di bangku sekolah tidak akan terulang. Seperti yang dapat diduga, saya keluar sebelum menggembol gelar sarjana. Saat itu, dari Surabaya saya pindah ke Jakarta dan ingin bekerja sekeras mungkin untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar kemudian saya tidak usah bekerja lagi. Yang terpikir saat itu adalah peluang apa yang ada dan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan rupiah.

Pagi sampai malam saya bekerja, saya tahu hati saya menangis dan menjerit, tetapi saya tidak peduli. Yang ada dalam kepala ini hanya sebuah pepatah yang saya yakin semua orang di negeri ini hafal luar kepala, yaitu “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.”

Semangat ’45 bertahan pada tahun pertama. Tahun selanjutnya, seperti kebanyakan orang yang telah lama bekerja di sebuah perusahaan, terbangun karena bunyi jam weker pukul 6 pagi, mata yang berat, badan terasa pegal. Otak kita pun mulai berperang antara satu bagian dan lainnya, yang satu berkata, “Ayo bangun, sudah pagi, gerakkan badanmu supaya sehat.” Yang satunya dengan lembut membujuk, “Tidurlah 5 menit lagi, kau kerja terlalu berat, tubuhmu perlu istirahat.” Setelah itu saya bangun dengan mata yang terbuka setengah dan menyeruput kopi sebagai sarapan sekaligus dopping. Tidak lama kemudian teringat akan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan dan janji yang harus ditepati. Hhh … inikah hidup? Seperti inikah hidup yang harus setiap orang jalani? Apakah ada kehidupan yang lebih baik?

Setiap kali ada dorongan kuat untuk meninggalkan semua ini dan menjalani hidup sesuai keinginan, setiap kali itu pula timbul perasaan sayang jika semua yang telah dirintis harus ditinggalkan. Saldo tabungan yang meninggi setiap bulannya benar-benar telah menjadi bola besi yang terpasung di kaki ini.

Saya tahu gaya hidup saya sangat kacau, dan mengorbankan banyak hal termasuk kesehatan dan yang paling parah adalah mengorbankan kedamaian pikiran. Padahal jika dipikir-pikir, apapun yang kita lakukan dalam mencari kesenangan atau mengumpulkan materi tujuannya adalah untuk mendapatkan kedamaian pikiran. Namun pada saat itu saya seolah-olah tidak sanggup untuk melepaskan, ada sisi lain dari dalam diri yang berkata, “Korbankan sebentar, nanti kau akan bahagia selamanya.”

Saya yakin banyak dari kita yang mengalami yang saya alami, merasa bosan dengan rutinitas seperti robot. Kita melakukan hal yang sama setiap harinya. Hidup terasa tanpa makna, tanpa sesuatu yang benar-benar memuaskan jiwa. Jikapun kita meminta cuti untuk liburan dan refreshing ke suatu tempat yang baru, itu hanya sekedar kebutuhan fisik dan pikiran sesaat. Dan yang menarik, setelah selesai liburan, muncul kemalasan seperti halnya anak kecil yang esok harinya akan masuk sekolah setelah libur panjang.

Nasib baik mendatangi saya, apa yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun hilang dalam hitungan bulan, saya tidak akan membahas hal itu, itu tidak begitu penting. Yang lebih penting adalah pelajaran yang mencerahkan diri saya setelah peristiwa itu.

Pada awalnya memang sangatlah berat, jendela masa depan terasa sudah tertutup rapat. Saya seolah-olah merasakan perasaan para miliarder yang pada awal krisis moneter 1997 tiba-tiba menjadi miskin sekali, bahkan lebih miskin dari pengemis di jalan karena banyaknya utang yang ditanggung. Dalam dunia yang serba tidak pasti ini, apapun dapat terjadi.

Kesibukan yang sebelumnya tiada henti berganti dengan hari-hari yang saya habiskan dengan merenung dan merenung. Handphone yang sebelumnya berdering setiap beberapa menit kini hening. Namun dalam perenungan itu, saya mendapat begitu banyak inspirasi, pencerahan. Saat seperti inilah yang mungkin disebut moment “Aha!” oleh banyak penyair, pencipta lagu, serta ilmuwan seperti Einstein dalam menemukan rumus spektakulernya, E=MC².

Saya tersadar bahwa apa yang manusia kumpulkan bertahun-tahun dapat hilang dalam hitungan detik. Apa yang kita pelajari dan kita diyakini sebelumnya dapat menjadi salah total. Dan yang lebih penting lagi, saya belajar bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Ya, saya ingin memastikan dengan mengulangi lagi bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Kita ingin bahagia atau tidak itu pilihan kita. Terus terang, memang tidak gampang menerima konsep ini. Saya dapat mengerti jika banyak pembaca yang tidak setuju. Kita telah terhipnosis oleh lingkungan kita sehingga kita merekatkan kebahagiaan dengan sesuatu di luar. Seperti saya akan bahagia jika mempunyai deposito yang bunganya dapat menghidupi diri saya atau bahagia jika sudah mendapatkan pasangan hidup.

Kita sering mengacaukan kebahagiaan dengan kesenangan duniawi. Kesenangan luar inilah yang kita kejar, bukan kebahagiaan yang di dalam. Terus terang kita sudah kehilangan arah, Socrates pada 25 abad yang lalu telah mengatakan, “Gnothi seauton (Kenali dirimu),” sebuah kata yang sederhana, tetapi maknanya sangat mendalam. Setahu saya kalimat ini juga dikatakan orang-orang suci yang datang ke dunia ini. Apa yang ingin dikatakan Socrates adalah: kita terlalu berorientasi ke luar.
Kita lupa menengok ke dalam, kita tidak menyadari bahwa setiap orang mempunyai misi individu. Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apa misi kita dalam hidup ini? Pastinya, kita bukan hidup untuk sekedar lahir, menikah, meneruskan keturunan, dan pulang kembali.

Mengenal diri sendiri merupakan kunci penting untuk membuka pintu untuk melangkah dalam hidup ini. Dengan bertanya pada hati kita misi hidup ini dan apa yang benar-benar kita inginkan untuk meraihnya, tujuan kita akan jelas. Dari sini kita dapat hidup dan bekerja karena pilihan, bukan peluang. Memang sulit awalnya untuk mengetahui misi kita, karena pikiran kita terbiasa berfokus keluar, bukan ke dalam. Namun mungkin kita dapat memulai dengan bertanya pada diri sendiri, pekerjaan apa yang senang kita lakukan walau tanpa dibayar sekalipun.

Jika kita sudah dapat menjawabnya, sebenarnya kita sudah mulai mengenal diri sendiri. Dan langkah selanjutnya adalah melakukan keinginan hati, atau yang sering kita dengar “ikuti kata hatimu,” lakukan apa yang hati katakan, kerjakan dengan sepenuh hati, kepuasan pun akan datang.

Paolo Coelho, dalam buku masterpiece-nya, The Alchemist, menulis dengan indahnya, “Di mana hatimu berada di sanalah hartamu terletak.” Jika seseorang bekerja sesuai panggilan hatinya, sebenarnya orang tersebut sudah dapat dikatakan tidak bekerja, karena dia hanya melakukan apa yang disukainya. Sejak saat itu, saya bertekad untuk bekerja hanya pada panggilan hati saya.

Saya sangat suka berbagi pengetahuan, dan saya senang sekali jika dapat memberikan sesuatu yang saya pikir berguna untuk seseorang. Itulah yang membuat hati saya bahagia, tetapi apakah saya dapat hidup hanya dengan melakukan itu? Terus terang pada awalnya banyak keraguan dan ketakutan. Keraguan mengingat banyaknya tawaran menggiurkan datang kepada saya untuk bekerja dan tinggal di Jakarta dengan gaji awal yang dapat dikatakan cukup tinggi. Ini makin memperbesar ketakutan apakah saya dapat bertahan dengan berbagi?

Dunia kita ini terlalu dan selalu berfokus pada apa yang bisa kita dapatkan sebelum melakukan pekerjaan. Hukum ekonomi yang semua orang pelajari berbunyi pengeluaran sekecil-kecilnya dan pendapatan yang sebesar-besarnya. Kita lupa bahwa sebelum kita memetik hasil, kita harus menanam dulu, jika kita ingin lebih maka kita harus melakukan lebih. Inilah yang dikatakan Oprah Winfrey pada 26 tahun yang lalu sewaktu dia memulai program talk show-nya yang mendunia. Bill Gates pun merintis Microsoft dengan susah payah dalam garasi rumahnya.

Hal ini mengingatkan saya pada pidato terkenal dari mendiang John F Kenedy, “Jangan tanyakan apa yang dapat Negara berikan kepada anda, tetapi tanyakan apa yang bisa anda berikan kepada Negara.” Pelayanan apa yang dapat saya berikan untuk membuat dunia lebih baik, nilai tambah apa yang dapat saya wujudkan untuk perkembangan manusia? Inilah yang seharusnya menjadi fokus kita semua. Jika kita percaya bahwa Pencipta kita adil, seharusnya kita tidak takut untuk berbuat lebih, bukan?

Yang menarik lagi, ketika kita fokus pada hasrat dalam diri sendiri dan fokus pada apa yang dapat kita berikan, kita tidak takut dengan persaingan. Kita sadar bahwa setiap individu adalah unik. Ketika kita dapat menggali dan menemukan keunikan dalam diri lalu menggunakannya dengan fokus “memberi”, kepuasan akan bertamu dalam diri kita.

Nah, sekarang percaya kan jika saya tidak bekerja, saya hanya melakukan apa yang benar-benar saya suka. Saya suka sekali berbagi. Saat ini saya berbagi melalui tulisan di majalah Psikologi Plus. Selain dari itu, saya juga berbagi melalui pelatihan stress management dan motivasi serta berbagi dalam talkshow mingguan di Radio Duta FM di Bali.

Suatu hari saya benar-benar kebingungan sewaktu harus mengisi sebuah formulir berbahasa inggris yang harus mencantumkan pekerjaan saya. Karena tidak boleh diisi dengan jobless (penganggur). Dengan bangga saya mengisinya dengan heartworker. J

#gobindvashdev – happinessinside


Body and Mind

Pasti banyak dari pembaca akhir-akhir ini sering mendengar istilah “Body and Mind” atau “tubuh dan pikiran”. Banyak juga yang mengerti bahwa keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Dari waktu yang tak terhitung lamanya, dalam kitab-kitab kuno seperti Ayurveda, hubungan keduanya telah tertulis dengan sangat jelas. Bahkan Socrates 2.400 tahun yang lalu pernah berkata, “Adalah suatu kesalahan jika memisahkan antara tubuh dan pikiran”.

 Kita semua tahu bahwa setiap pikiran dan emosi yang membungkusnya mempunyai efek yang langsung pada tubuh. Jika anda merasa sedih, tubuh anda akan terasa lemah, malas, wajah mengerut, gerakan cenderung melambat, dan secara postur, tubuh akan menunduk, tangan terlipat. Lalu jika anda sedang senang atau gembira, tubuh akan merasa penuh energy, tersenyum, melihat ke atas, dada dan tangan terbuka. Namun, tahukah anda bahwa hal sebaliknya pun dapat terjadi? Bahwa setiap gerakan yang kita lakukan mempengaruhi perasaan kita. Nah, disini mungkin pembaca akan bingung dan bertanya dalam hati, “Apa mungkin gerakan mempengaruhi perasaan?”

Sebelum pembaca berbingung ria dan penasaran, mari kita lakukan sebuah eksperimen kecil di bawah ini.
Pertama, dengan posisi duduk, cobalah anda melipat tangan anda kemudian geser pinggul anda sedikit ke depan tetapi punggung tetap bersandar sehingga duduk anda tidak tegak lagi. Kemudian merunduklah dan buat wajah anda berkerut tanpa senyum. Biarkan beberapa detik dalam keadaan tersebut. Sekarang, cobalah ingat-ingat peristiwa yang membahagiakan tanpa mengubah posisi tubuh dan wajah anda. Bisa? Sangat sulit sekali, bukan?

Sekali lagi, cobalah hal yang sebaliknya. Berdirilah, ambil selangkah maju dengan kaki kiri anda. Sambil melihat ke atas, angkat kedua tangan anda setinggi dan selebar mungkin sehingga tubuh anda menyerupai huruf “Y”, tersenyumlah dengan lebar dan cobalah berpikir tentang kesedihan. Sekali lagi, apakah dapat anda berpikir sedih dalam posisi tersebut?
Kedua eksperimen tadi telah membuktikan bahwa hubungan antara tubuh dan pikiran bukanlah satu arah melainkan dua arah. Tidak hanya setiap pikiran dan perasaan mempengaruhi mekanisme tubuh, tetapi juga setiap gerakan tubuh atau fisiologi kita juga mempengaruhi pikiran dan perasaan kita. Setiap otot yang berada dalam tubuh mempunyai hubungan yang langsung ke otak. Setiap gerakan juga berpengaruh pada system endokrin atau hormonal dalam tubuh yang bertanggung jawab terhadap perasaan kita.

Gerakan tersenyum misalnya, akan membuat kelenjar pineal dalam otak mengeluarkan hormon endorphin, yaitu zat sejenis morfin alami yang kekuatannya 200 kali dari morfin buatan. Endorfin ini membuat perasaan menjadi senang dan bahagia.

Sebuah survey dilakukan tentang senyuman, dan hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa anak-anak tersenyum dan tertawa rata-rata 300 kali dalam sehari. Sementara yang mengejutkan, rata-rata orang dewasa tertawa dan tersenyum hanya 15 kali dalam sehari. Penelitian ini mengungkap rahasia mengapa anak-anak lebih bahagia dan senang dibanding orang dewasa.
Sementara gerakan bersujud yang hampir dilakukan semua umat beragama atau kepercayaan dalam berdoa (atau dalam Yoga disebut child pose / pose anak), diteliti mampu membawa seseorang dalam keadaan relaks. Posisi ini juga membuat darah mengalir ke beberapa bagian dalam otak yang tidak dapat dijangkau dalam posisi gerakan lainnya. Hubungan tentang gerakan tubuh dan pikiran inilah yang juga menjelaskan mengapa setelah berolahraga pikiran akan merasa nyaman.

Kurang Gerak

Ada banyak sebab mengapa penduduk bumi ini semakin cepat terkena stress. Salah satunya adalah kurangnya gerak. Semakin lama dunia semakin memanjakan manusia. Teknologi seringkali membuat orang menjadi jarang menggunakan kemampuan ototnya untuk bekerja.
Lihatlah di pagi hari sewaktu kita mandi, dahulu orangtua kita menimba air di sumur, sekarang kita tinggal memutar keran dan air sudah mengucur dari lubang shower. Dahulu manusia pergi dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan atau bersepeda, sekarang sepeda motor dan mobil yang ada di garasi menggantikannya. Naik turun tangga digantikan oleh lift dan tangga berjalan. Bahkan banyak dari sahabat sulit untuk meulis dengan tangan karena mesin tik dan tombol-tombol HP telah menggantikannya.

Laju kehidupan bergerak lebih cepat, tetapi kita semakin jarang bergerak, sementara kalori yang kita lahap jauh dari yang kita butuhkan.

Tumpukan energy dari makanan yang kita konsumsi dan tak tersalurkan ini menjadikan sumbatan dalam keseimbangan tubuh kita, dan banyak gangguan fisik dan ketegangan batin sangat mungkin berawal dari ketidakseimbangan ini.

Ubah Gerak

Sekarang jika sudah mengetahui bahwa tubuh dan pikrian adalah satu kesatuan dan juga setiap gerakan mempengaruhi pikiran. Pertanyaannya, lebih mudah mana, mengubah perasaan atau mengubah gerakan? Pasti jawabannya adalah lebih mudah mengubah gerakan bukan? Ya, jadi ubahlah gerakan anda maka perasaan akan berubah.

Tulisan ini mungkin juga menjawab pertanyaan mengapa sahabat-sahabat yang rutin berlatih yoga, tai chi atau teknik gerakan lain mengalami hidup yang lebih damai dan nyaman. Anthony Robbins, pelatih sukses nomor satu dunia pernah berkata, “Our emotion is created by our motion.”

Emosi kita diciptakan oleh gerakan kita atau gerakan kita mempengaruhi emosi kita.
Berjalan kaki selama 30 menit selain menyehatkan juga akan membuat perasaan galau hilang. Untuk mengusir kecemasan atau kerisauan, coba paksa diri anda untuk tersenyum selama dua menit, dan rasakan hasilnya.

Awalnya mungkin ini akan terasa aneh, serasa tidak lazim. Namun jangan khawatir, semua hal yang pertama kita lakukan juga pasti terasa aneh. Pada awalnya paksakan diri anda, dan lama-lama ini akan menjadi kebiasaan yang bekerja di bawah sadar anda.

Hidup ini indah karena kita mempunyai kebebasan untuk memilih. Namun, setiap pilihan tidak selalu berujung pada sesuatu yang kita harapkan. Kadang kala, angin berembus terlalu kencang dalam pikiran kita membuat emosi bangun dan meluap. Kita bisa marah dan menyesal setelahnya atau kita bisa memilih untuk berjalan cepat selama 30 menit. Di kala kesedihan berkunjung, kita pun punya pilihan untuk duduk merunduk atau melihat ke atas dan tersenyum.

Semua adalah pilihan anda … have a wonderful life!

#gobindvashdev – happinessinside


Senin, 09 Maret 2015

Saatnya Belajar dari Wanita

Secara umum, manakah yang lebih rentan stres, pria atau wanita? Pertanyaan ini sering muncul dalam pelatihan stres management yang biasa saya lakukan. Sebuah pertanyaan singkat yang sederhana, bukan? Namun jawabannya, hmmm … tidaklah sesederhana itu.

Pada umumnya, wanita lebih gampang terkena stres, tetapi saya sangat menyarankan setiap pria untuk belajar menyikapi stres dari wanita. Lhoi kok? Ya, dan inilah sebenarnya rahasianya, pencipta kita sangatlah adil. Dia menciptakan kekuatan dan kelemahan dalam satu kesatuan. Kekuatan dan kelemahan yang sering kita pandang sebagai hal yang berlawanan sebenarnya saling melengkapi.
Di dalam setiap kekuatan tersimpan kelemahan, dan juga sebaliknya. Banyak yang memandang kecilnya seekor semut adalah kelemahan, tetapi karena kecil maka semut bisa masuk ke tempat yang tak terjangkau oleh binatang lain.

Begitu pula dengan wanita, banyak sekali yang melihat sebagai kaum yang lemah. Saya pribadi melihat dengan cara berbeda 180 derajat dari kebanyakan sahabat. Sejak kecil saya selalu mengagumi sosok wanita, saya melihat banyak kemampuan wanita yang harus saya pelajari dalam kehidupan ini.
Setelah beribu tahun pria menjadi panutan, wanita telah belajar banyak dari pria dalam berbagai bidang, bukankah sudah seharusnya pria juga harus belajar dari wanita? Saya percaya, jika pria belajar dari wanita bagaimana menghindari atau menyikapi kejadian pemicu stres yang datang, pria akan mendapatkan hidup yang lebih berkualitas. Tulisan ini dibuat bukan dimaksudkan membandingkan mana yang lebih baik. Namun, lebih untuk pemahaman yang lebih tinggi antara keduanya. Walau terkesan tulisan ini hanya untuk pria, sebenarnya wanita dapat mempelajari tentang dirinya lebih dalam dan lebih memahami mengapa dirinya berbeda dengan pria.

Fisiologi

Secara fisiologis, otak wanita lebih kecil daripada otak pria. Meski lebih kecil, otal wanita bekerja 7-8 kali lebih keras dibanding pria pada saat menghadapi sebuah masalah. Di samping itu, ada sebuah jembatan antara otak kanan dan otak kiri, jembatan ini disebut corpus callosum. Jembatan pada pria lebih tipis dan jarang, sedangkan pada wanita jembatan ini lebih tebal dan lebih banyak 30%. Jembatan yang lebih tebal ini memungkinkan wanita memandang sebuah persoalan lebih lebar dan menghubungkan satu hal dengan hal lainnya. Ini membuat sebuah permasalahan menjadi lebih kompleks.

Sementara itu, seringkali menurut para pria hal satu dan yang lainnya tidak berhubungan. Selain secara mental, dalam memandang sebuah persoalan, secara fisik pun hal yang sama terjadi. Ini pun berlaku pada lebar tidaknya pandangan mata antara pria dan wanita. Wanita memandang lebih lebar sedangkan pria lebih sempit. Oleh karena itu, jika seorang pria melihat wanita cantik lewat harus memutar lehernya, sementara wanita yang memandang pria ganteng cukup dengan melirik saja. J

Bukti lain dapat dilihat dalam sebuah survey kecelakaan para pengemudi pria dan wanita. Pada mobil atau kendaraan yang dikemudikan oleh pria, bagian yang sering kena benturan adalah kanan dan kiri, sementara wanita depan dan belakang. Ini sebabnya wanita agak sulit untuk memarkirkan mobilnya.
Selain secara struktur otak, yang menyebabkan wanita lebih mudah stres, ternyata seorang wanita, memiliki keinginan untuk tampil menjadi wanita sempurna. Menjadi ibu yang welas asih, istri yang menggairahkan, menjadi tetangga yang baik atau bos yang berwibawa. Menurut Simoner de Beauvoir, seorang pelopor feminisme modern, dalam bukunya Second Sex, keinginan itu bukan berasa dari luar melainkan dari dalam diri wanita. Inilah yang membuat wanita cenderung lebih stres.
John Gray Ph.D. yang mendunia dengan seri bukunya Men are from Mars and women are from Venus juga mengatakan wanita ingin selalu menyenangkan orang lain, mereka ingin selalu memberikan, tetapi tidak memberi diri sendiri dengan cukup. Semua ini membuat wanita sering kewalahan dan menderita stres yang tinggi. Belum lagi jika ditambah kondisi hormonal yang tidak seimbang sebelum menstruasi.

Dari fakta-fakta yang ada tersebut, dapat disimpulkan sementara bahwa wanita mengalami stres yang lebih besar daripada pria. Namun menariknya, 2/3 populasi yang mengkonsumsi alkohol adalah pria., 80% yang menggunakan narkotika dan obat terlarang adalah pria, 90% yang menghuni lembaga permasyarakatan atau penjara adalah pria. Lalu walau percobaan bunuh diri tiga kali lebih banyak dilakukan oleh wanita, tetapi empat dari lima orang yang melakukan bunuh diri adalah pria. Aneh bukan? Mengapa yang mengalami stres wanita dan yang melakukan tindak kriminal adalah pria? Mengapa yang depresi lebih banyak wanita dan yang bunuh diri lebih banyak pria?
Di bawah ini adalah tiga dari banyak perangkat lainnya yang dipergunakan oleh wanita dalam menghadapi stres. Sekarang saatnya belajar dari wanita.

Berbagi
Disinilah sebenarnya kaum adam dapat belajar banyak dari kaum Hawa. Pria sudah seharusnya mulai menghilangkan pola budaya turun-temurun, bahwa setiap masalah dapat “dibereskan” sendiri. Memendam dan memikirkan sendiri masalah sama seperti menyimpan bom yang sewaktu-waktu dapat meledak.
Setiap wanita secara alami senang mencurahkan kejadian sehari-hari dalam hidupnya, baik itu masalah atau kejadian yang menyenangkan. Inilah yang biasa disebut “curhat”. Wanita bericara tanpa mengharapkan solusi. Mereka berbicara untuk melepaskan apa yang dirasakan dalam dirinya, dan ini menjadikan wanita lebih ringan dalam menjalani hidupnya.
Dalam keadaan stres, wanita berbicara tanpa berpikir. Karena itulah 90% dari penghuni penjara adalah pria dan 90% yang datang ke psikolog adalah wanita. Menurut survey setiap hari wanita mengeluarkan sekitar 20.000 kata, sedangkan pria hanya 7.000 kata. Wanita suka sekali berbicara dengan sesama jenis, ini karena otak pria tidak didesain untuk mendengar. Namun kurangnya keterampilan mendengar bukannya tidak dapat diubah, keterampilan ini dapat dikuasai pria dengan latihan.

Menangis
Selain berbicara, wanita juga mengeluarkan emosinya dengan menangis. Namun, hal ini dipandang tabu oleh sebagian besar pria. Ada sebuah hukum yang tidak tertulis dalam budaya pria, bahwa pria tidak boleh menangis. Menangis adalah untuk wanita, untuk kaum yang lemah.
Bagi saya, menangis bukanlah hak kaum wanita saja, menangis adalah hal yang sangat manusiawi. Sama seperti tertawa, menangis adalah sebuah luapan emosi. Jika emosi sudah mencapai titik tertentu, air mata muncul untuk meredakan perasaan yang bergejolak itu.
Teringat saya dengan Viktor Frankl, seorang penemu logotherapy yang pernah dipenjara di kamp konsentrasi Auswitch. Seluruh keluarganya dibunuh kecuali saudara perempuannya. Dalam bukunya, Frankl berkata, “Ada banyak penderitaan yang harus kita jalani. Karenanya, kita perlu menghadapi seluruh penderitaan kita, dan berusaha menekan perasaan lemah dan takut. Akan tetapi kita juga tidak perlu malu untuk menangis, karena air mata merupakan saksi dari keberanian kita untuk menderita.”

Pelukan
Yang satu ini juga jarang dilakukan oleh pria, pelukan adalah obat termurah selain tertawa. Begitu banyak penelitian tentang pelukan dan semuanya membuktikn bahwa pelukan akan merangsang hormon oxytocin (sebuah hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kedamaian) keluar dan sekaligus menekan cortisol dan norepinephrine (hormon pemicu stres). Selain itu, oxytocin juga baik untuk jantung dan pikiran kita.

Di Kansas, Amerika Serikat, Dr. Harold Voth, seorang psikiater senior, telah melakukan riset dengan beberapa ratus orang. Hasilnya, mereka yang berpelukan mampu mengusir depresi, meningkatkan kekebalan tubuh, awet muda, tidur lebih nyenyak, dan lebih sehat. Kulit adalah organ tubuh yang terbesar, dan dibawahnya terdapat begitu banyak kelenjar-kelenjar yang aktif dan mengeluarkan hormon kekebalan jika disentuh.

Ada kecenderungan, semakin dewasa seseorang semakin jarang sentuhan melekat di tubuh ini. Seorang bayi selalu dalam pelukan, seorang anak kaya akan sentuhan orang-orang di sekitarnya, tetapi setelah dewasa sentuhan semakin jarang. Bahkan jabat tangan dan cium pipi belum tentu setiap saat dilakukan setiap bertemu teman. Seorang terapis keluarga yang sangat saya kagumi, Virginia Satir, mengatakan, “Untuk bertahan hidup, kita membutuhkan empat pelukan sehari. Untuk keseharan, kita butuh delapan pelukan per hari. Untuk pertumbuhan, awet muda, kebahagiaan, kita perlu 12 pelukan per hari.”

Saya sangat mengerti jika otak pria tidak didesain untuk berbagi, apalagi mendengar. Saya juga tahu jika hormon pria dan wanita sangat berbeda sehingga menyebabkan pria susah untuk berekspresi berlebihan seperti menangis. Saya juga menyadari jika kulit pria tidak terlalu peka dibandingkan kulit wanita. Namun, semua bukanlah harga mati yang tidak dapat diubah, kita dapat pelajari apa yang terbaik dari wanita. Saya yakin, kita dapat merasakan perubahan setelah kita sadar dan mempraktekannya.

Akhir kata, selamat berbagi, menangis, dan berpelukan

#gobindvashdev – happinessinside