Selasa, 24 Februari 2015

Demokrasi Tolol Versi Saridin

Saridin bukan tidak sadar dan bukan tanpa perhitungan kenapa dia memilih nyantri ke pondoknya Sunan Kudus. Saridin itu tipe murid yang cerdas dan mengerti apa yang dilakukannya.
Harap dimengerti, murid itu bukan padanan kata siswa atau student, sebagaimana manusia modern memaknainya secara tolol. Memang manusia dalam kebudayaan dan peradaban modern kerjanya selalu melawak. Mereka lucu dan bahkan sangat lucu, karena mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka lucu.
Coba lihat saja, di dunia modern ada yang namanya Universitas. Wah gagahnya bukan main lembaga pendidikan tertinggi ini. Penuh gengsi dan keangkuhan. Kalau sudah lulus darinya, orang disebut ‘sarjana’.
Padahal sesungguhnya saridin membuktikan sendiri, bahwa para pelaku pendidikan dunia modern ini ndagel atawa melawak. Mereka pura-pura bikin universitas dengan pemahaman bahwa yang diproduksi adalah manusia universal.
Padahal nanti para sarjana keluaran universitas itu kualitas dan cakrawala pandangnya tak lebih dari manusia fakultatif. Anak didik yang usianya sudah dewasa ini tetap saja kanak-kanak sampai tua, karena sudah bertahun-tahun di universitas masih saja terbuntu pada kualitas fakultatif bahkan jurusan.
Apa begitu itu namanya, kata Saridin, kalau bukan ndagel. Kalau remaja-remaja itu berangkat ke universitas, ngakunya pergi kuliah. Istilah itu dari bahasa Arab: Kulliyah. Artinya, suatu keberangkatan intelektual, mental, spiritual dan moral menuju taraf kosmopolitanisme.
Segi lawakannya menurut Saridin terletak pada kenyataan bahwa sebenarnya mereka bukan berangkat kuliah, melainkan berangkat juz’iyyah, itu artinya berangkat memahami sesuatu secara sektoral, secara fakultatif dan parsial.
Seandainya mereka bukan pelawak, tentu setiap keberangkatan juz’iyyah akan selalu pada akhirnya diorientasikan atau dikembalikan lagi ke spectrumkulliyah atau universalitas. Tapi karena tradisi demikian tidak menjadi habitat utama budaya pendidikan manusia modern, maka hasilnya adalah kesempitan.
Umpamanya kalau mereka disodori pakaian oleh Saridin dan tanyakan kepada mereka “Apa ini?” mereka paling menjawab – “ini baju,” atau “ini celana”, “ini cawet” atau “ini dasi.”
Mereka tidak pernah menjawab – “ini kain”, “ini benang”, “ini kapas”, “ini serat-serat”, atau mungkin “ini kerjasama antara ciptaan Tuhan dengan teknologi ciptaan manusia.”
Pendeknya, pada kesimpulan Saridin, jangkauan ilmu mereka atau dangkalnya kedalaman pengetahuan mereka itu hanya bisa diterangkan melalui dua kemungkinan acuan. Kalau tidak bodoh, ya itu: ndagel.
***
Kalau pembicaraan kita sampai pada soal ‘dasi’ atau ‘sepatu’, yang merupakan ciri-ciri terpenting dari eksistensi manusia modern, lebih terasa lagi lawakannya. Kalau sudah mengingat itu, Saridin tersengguk-sengguk karena tawa dan tangisnya menjadi satu keluar dari mulut dan matanya.
Dasi itu menurut pemahaman Saridin adalah benda yang benar-benar tidak bisa dipahami apa kegunaannya, kecuali untuk siap-siap kalau sewaktu-waktu pemakainya ingin kendat atau bunuh diri dengan cara menggantung diri atau menjerat leher.
Kebudayaan zaman modern selalu menjelaskan dasi dalam konteks sopan santun, kepribadian kelas menengah, simbol gengsi, dan lain sebagainya. Itu semua pada penglihatan Saridin benar-benar abstrak. Bagaimana mungkin kepribadian dikaitkan atau apalagi ditentukan oleh seutas kain yang diikatkan mengelilingi leher.
Benar-benar sangat lucu. Saridin khawatir Tuhan sendiri bisa geleng-geleng kepala karena kelucuan dasi ini tingkatnya benar-benar rendah. Kepribadian itu masalah software, soal batin, mutu nilai yang rohaniah sifatnya. Kok dilawakkan melalui seutas dasi. Alangkah tidak bermutunya lawakan manusia modern.
Apalagi masalah sepatu. “Pakailah sepatu”, kata saridin menirukan seseorang yang pernah didengarnya di abad 20, “agar kakimu terlindung dari duri atau kerikil tajam”.
Padahal para pemakai sepatu justru cenderung untuk menolak berjalan di jalanan. Mereka justru lebih sering melangkahkan kaki di lantai yang beralaskan karpet tebal dan empuk.
Lantas seseorang melanjutkan – “tapi sebelum pakai sepatu, pakailah dulu kaos kaki, untuk melindungi kakimu dari sepatu, agar tidak mlincet (lecet).
Disinilah, menurut studi saridin, puncak lawakannya. Orang yang disuruh pakai sepatu dan kaos kaki pasti kebingungan –“jadi sebenarnya sepatu ini melindungi kaki atau mengancam kaki, sehingga kaki harus dilapisi dengan kaos kaki?”
Oleh karena itu, sejak abad 16 Saridin sudah sadar untuk tak mau diranjau oleh kebodohan yang canggih atau kepandaian yang ndagel versi kebudayaan modern. Maka ia mateg aji menjadi murid.
‘Murid’ itu kata subjek yang berasal dari kata kerja arada, yuridu, muridan.Artinya: seseorang yang berkehendak. Ingat kata iradat Tuhan? Artinya kehendak Tuhan.
Saridin menjadi muridnya Sunan Kudus karena ia sendiri yang berkehendak untuk itu. Juga Ia sendiri yang berkehendak, atau yang menjadi subjek yang menghendaki segala macam yang menyangkut ilmu dan pengalaman hidup yang akan dialaminya dari Sang Sunan.
Dengan kata lain, sesungguhnya Saridin sendiri yang menyusun kurikulum kesantriannya. Itu namanya murid. Kalau seseorang datang ke pesantren atau sekolah lantas pasrah bongkokan dan mulutnya menganga melulu menunggu apa saja terapan kurikulum yang telah disediakan, itu namanya murad. Artinya orang yang dikehendaki.
Memang sih pesantrennya Sunan Kudus sudah memiliki kurikulum, sistem pendidikan dan metode pengajaran tersendiri, tetapi itu sekedar bahan dan masukan bagi Saridin. Si Saridin sendiri yang kemudian mengatur dan menguasai kurikulum itu di dalam dirinya sendiri.
Jadi pada hakekatnya pesantren Saridin terletak di dalam otaknya Saridin itu sendiri. Sekolah Saridin berdiri di dalam hitungan akal sehat Saridin sendiri. Universitas Saridin berlangsung di dalam metode dan proses belajar ataukaifiyah intelektual-spiritual Saridin sendiri. Itulah sebabnya ia sungguh-sungguh seorang murid.
***
Menurut pandangan Saridin, sikap menjadi murid adalah perwujudan demokrasi pendidikan. Kalau ia hanya murad, berarti ia menyediakan diri untuk ditindas. Padahal Saridin tahu, di dalam Islam, orang dilarang menindas, dan lebih dilarang lagi untuk bersedia ditindas.
Tapi jangan lupa pengetahuan tentang demokrasi itu pasti Saridin ambil dari dunia modern juga. Jadi jangan seratus persen percaya kalau Saridin begitumbagusi ketika mentertawakan kebudayaan modern. Sebab sesungguhnya ia juga banyak belajar kepada segala sesuatu mengenai modernitas dan modernisme.
Bahkan ada bulan-bulan dimana ia salah menerapkan prinsip demokrasi ketika mengikuti pengajaran dan pendidikan yang diselenggarakan oleh Sunan Kudus.
Ketika sang Sunan meminta Saridin membuktikan hapalan Qurannya, satu juz saja, di depan para santri lainnya - dengan mantap ia menjawab: “Sunan, adalah hak asasi saya untuk memilih apakah saya perlu menghapalkan Qur’an atau tidak.”
Demokrasi, bagi Saridin ketika itu, bertitik berat pada prinsip Hak asasi manusia.
Ketika ia diminta mempraktekkan jurus jalan panjang ketika dilatih silat, Saridin juga menjawab: “Saya sendirilah yang berwenang untuk mempraktekkan jurus itu sekarang. Tidak seorangpun bisa memaksa saya..”
Tapi sebelum selesai kalimatnya, Sunan Kudus mendadak menghampirinya dan menyerbunya dengan berbagai jurus. Saridin kepontal-pontal, pontang-panting, terjatuh-jatuh, terluka dan keseleo.
“Kalau kamu tidak sanggup menjadi pendekar, jangan bersembunyi dibalik kata demokrasi!” kata Sunan Kudus sambil mencengkeram leher Saridin yang terengah-engah.
_repost

SIM

Ini adalah sebuah kisah dari Sampang, tentang pengendara sepeda motor yang marah-marah, ditilang polisi lalu lintas gara-gara tidak memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi). Memang orang Madura itu menyodorkan SIM ke polisi itu. “Ini bukan SIM saudara! Nama dan fotonya berbeda!” kata bapak polisi. Maka tersinggunglah si pengendara motor itu; “Lho bapak ini kok aneh-aneh! Lha wong yang saya pinjemi SIM saja ‘dak marah-marah kok, malah Bapak yang marah!”.
Sepintas memang terasa bahwa si pengendara sepeda motor orang Madura itu tampak bego, namun kalau kita simak secara seksama, sesungguhnya sangat cerdas, jujur, lugu, tak menipu sekaligus upaya melindungi dirinya melalui perangkat logikanya yang sangat luar biasa. Logika hukum tentang tidak boleh menggunakan SIM milik orang lain itu tidak ada dalam kamusnya, yang ada kecuali kalau dia mencuri SIM orang lain, dia pinjam baik-baik pada yang empunya SIM – justru yang tidak boleh bila mengendarai sepeda motor tanpa membawa SIM. Betapa jeli dan cerdasnya orang itu menangkap kelemahan ketidaklengkapan informasi yang diproduk dan disosialisasikan polisi kepada masyarakat;
-          Mengemudikan kendaraan bermotor, tidak dapat MENUNJUKKAN SIM dipidana kurungan dua bulan atau denda maksimal dua juta rupiah.
-          Mengemudikan kendaraan bermotor, tidak memiliki SIM dipidana kurungan enam bulan atau denda maksimal enam juta rupiah.
Mestinya bunyi kalimat yang diinformasikan ke masyaraat adalah: Setiap pengendara motor wajib memiliki dan dapat menunjukkan SIM sesuai dengan nama, tanda tangan dan pas photo.
Tentunya bukan sekedar permainan kata, pertanyaan bisa dikembangkan – mengapa tidak semua pengendara motor memiliki SIM? Apakah sulit mencari/mendapatkan SIM? Apakah mahal biaya mengurus SIM? Konon menurut pengalaman empiric dari dulu sampai dengan era omputerisasi tetap saja yang namanya pelayanan public di Indonesia (termasuk di dalamnya bagaimana mendapatkan SIM) masih belum beranjak pada kebiasaan sebelumnya, yakni; masih seneng berbelit-belit, bahkan ada semacam psikologi para ‘pelayan masyarakat’ yang merasa puas kalau menyaksikan masyarakat tersiksa karena menunggu lama, bingung, menghadapi serba ketidakjelasan, diombang-ambing – bukan sebaliknya, puas karena mampu secara cepat melayani kebutuhan masyarakat. Bagi ‘pelayan masyarakat’, hal itu adalah kepuasan tentang dirinya –kecuali dengan uang kontan dan Cuma-Cuma yang bisa memperlancar/memperpendek waktu dan segera masyarakat mendapatkan yang diperlukan. Kisah orang Madura di atas, satu contoh – nampaknya lebih memilih yang cepat, praktis pinjam SIM ke temannya daripada setengah mati ngurus ke kantor polisi. Bisa saja sih kita tuduh si pengendara motor orang Madura itu malas, tapi jangan lupa – bisa juga soal lain, jangan-jangan dia gak mau harga dirinya terluka karena pengalaman selalu dipermainkan bila berhadapan dengan aparat pelayanan masyarakat, maka “parody” dipakai sebagai benteng pertahanan harga dirinya.
_repost

peace

dulu, waktu SMA, sudah bikin sketsa untuk diikutkan lomba bikin poster, sudah disurati pihak sekolah untuk ikut serta, tapi batal karena ke luar kota
# i not what what

sujud

WORO – WORO : "Peluang Usaha Franchise / Waralaba Laundry Kiloan Profesional Terbesar Di Indonesia"

Banyak orang bertanya-tanya, apa sih usaha yang bagus buat saya ? Usaha yang pas dengan kepribadian saya ? bla.. bla… bla… bla….  Kemudian orang yang (maaf) sok tahu, berusaha menjawab: oh, kamu usaha ini aja (mungkin sambil promosi) … bla.. bla… bla.. bla… Saking banyaknya orang yang memberi ribuan pilihan, makin bingunglah orang yang bertanya tadi. Akhirnya banyak mikir, akhirnya bingung, dan akhirnya malah tidak jadi deh buka usaha sendiri.
Tapi ada juga jawaban yang amat sangat bijak (bukan saya lho orangnya, hehe..). Usaha yang baik adalah usaha yang segera dimulai dan dijalankan. Apapun usahanya. Silakan. Ayo dijalankan. Tentu dengan komitmen dan ketulusan hati saat menjalankan usaha tersebut. Bukan karena terpaksa. Malu dengan tetangga karena sudah berkoar-koar mau buka usaha sendiri.
Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alamnya. Jadi, mau usaha apa saja bisa jalan. Perikanan: air laut melimpah, air tawar juga banyak, ikan-ikannya juga macam-macam. Pertanian: sebatang tanaman ubi saja kalau ditancapkan ke tanah bisa hidup dan berbuah. Orang-orangnya juga kreatif, bisa menciptakan berbagai inovasi diberbagai bidang, baik barang maupun jasa.
Kata orang bijak, delapan dari sepuluh pintu rezeki adalah melalui kegiatan berdagang (jualan). Namun orang yang bisa menguasai dunia adalah orang yang ahli dibidang pemasaran. Salah satu teknik pemasaran yang terkenal di Indonesia adalah Franchise.
Franchise itu simple-nya, ketika kita berhasil menciptakan suatu produk, baik itu barang atau jasa, lalu kita ingin memperluas wilayah pemasaran dengan menjual usaha (merk) kepada orang lain, dan kita tetap memantau usaha tersebut. Quality Control tetap dijaga. Orang yang membeli usaha kita tadi disebut dengan franchisee.
Nah diantara franchise yang bertebaran itu, ada yang sangat menarik: Simply Fresh Laundry, yaituwaralaba laundry (cuci dan seterika) kiloan pertama dan terbesar di Indonesia yang telah membuka 255++ outlet di 85 kota dari Sabang sampai Merauke. Masuk rekor MURI lho…
Dengan modal awal yang relatif ringan, balik modalnya juga cukup cepat: tidak sampai satu tahun. Usaha ini juga mengusung teknologi tinggi, seperti: Tekonologi Ultra Violet dan Filterisasi Air, sehingga hasil cucian lebih bersih dan higienis, sangat bermanfaat, khususnya untuk pakaian bayi dan yang memiliki kulit sensitif. Detergen yang digunakan ramah lingkungan dan sudah teruji oleh mahasiswa MIPA (kimia) UGM. Selain itu, usaha ini sangat dipermudah dengan adanya sistem komputerisasi (ada software khusus). Timbangan berat pakaian kotor bisa langsung terhubung ke komputer, jadi tidak perlu repot-repot nulis dua kali deh. Untuk pakaian juga menjadi lebih awet karena dicuci sesuai dengan washing care label (proses mencuci yang disesuaikan dengan bahan pakaian).
Usaha ini memang sangat memanjakan konsumen! Coba saja fasilitas cuci kilat empat jam, yang baju kotornya mendadak mau dipakai minimal setengah hari lagi ataupun besok untuk acara penting, bisa tertolong deh. Semakin cepat saja pelayanannya karena juga didukung dengan Count Sensor Clothing(sistem hitung otomatis). Ada juga fasilitas antar-jemputnya, jadi tidak perlu keluar rumah dan bisa mengurus hal lain di rumah, praktis kan. Konsumen bebas memilih pewangi pakaian sesuai selera, bisa sekalian menghemat parfum, hehe..  Dan bagi yang sudah menjadi member, ada diskon khusus, jadi lebih murah. Tapi tenang saja, kalau hasilnya mengecewakan (pakaian masih kotor atau hasil setrikaan kurang rapi), ada fasilitas garansi. Bisa dikembalikan lagi tanpa kena tambahan biaya. Terakhir, usaha ini menggunakan sistem pengepakan eksklusif, yaitu dikemas plastik atau kertas packing khusus laundry guna menjaga kebersihan dan kerapian pakaian.
Jadi, kenapa masih bingung? Semua sudah jelas dan lugas dibahas. Ayo segera bergabung menjadi franchisee Simply Fresh Laundry. Apalagi bagi anda yang berada di lingkungan yang masyarakatnya sibuk bekerja dan dekat dengan sekolah atau kampus, usaha ini adalah tambang emas !! very very recommended..
Untuk info lebih lengkap selengkap-lengkapnya, silakan kunjungi:

Dari 2 in 1 (Two in One) Sampai Angkot Patas

Sepeda motor saat ini dianggap sebagai kendaraan yang merakyat, menggantikan posisi sepeda gowes. Adanya peningkatan ekonomi masyarakat dan kemudahan dalam memiliki sepeda motor, membuat dalam satu keluarga bisa memiliki lebih dari satu motor. Bahkan dalam satu keluarga, masing-masing anggotanya memiliki satu motor, kecuali yang masih bayi tentunya. Karena anak-anak kecil yang mulai beranjak besar sudah diajari bagaimana cara mengendarai sepeda motor.
Banyak sekali dampak positif adanya sepeda motor. Bentuknya yang ramping memungkinkan melewati jalanan yang padat dan gang-gang sempit, sehingga punya daya jelajah yang cukup luas dan dalam. Bagi pedagang keliling dapat memperluas cakupan wilayah dagangannya. Bagi pekerja kantoran dan anak sekolah dapat mempersingkat waktu tempuh perjalanan, sehingga tidak terburu-buru berangkat ke kantor ataupun ke sekolah. Dan bagi yang di desa pun jadi punya akses yang lebih cepat untuk ke kota.
Melihat faktor-faktor positif tersebut, membuat banyak perusahaan leasing kendaraan bermotor memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk bisa memiliki sebuah kendaraan bermotor, bahkan lebih. Adanya fasilitas kredit dan uang muka yang sangat ringan, membuat orang-orang tergiur untuk membeli kendaraan bermotor tersebut, khususnya adalah sepeda motor.
Karena banyak orang yang bisa memiliki kendaraan bermotor, akhirnya jalanan pun menjadi macet. Hampir disetiap persimpangan atau di ruas-ruas jalan tertentu dan pada jam-jam tertentu, akan ditemui kemacetan berkepanjangan. Tentu hal ini akan berbalik menjadi faktor negatif, karena akan menimbulkan masalah-masalah baru seperti kejahatan di jalanan, polusi udara, polusi suara, yang akan menimbulkan stress bagi pengguna jalan. Yang kemudian akan diteruskan pada menurunnya kinerja atau prestasi di tempat kerja maupun di sekolah. Dan yang paling berat adalah masalah dalam rumah tangga hanya karena terjebak macet di jalan.
Pemerintah sebenarnya sudah berupaya untuk menanggulangi masalah macet tersebut. Mulai dari pembangunan jalan tol, pengaturan jalur satu arah, adanya busway di ibukota, sistem 3 in 1 untuk kendaraan roda empat, dsb, sepertinya belum cukup untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Oleh karena itu, penulis tergerak untuk ikut menyumbang ide terkait hal itu, diantaranya:
Sistem 2 in 1
Sistem ini berlaku untuk pengguna sepeda motor. Jadi, satu sepeda motor minimal harus berpenumpang dua orang. Karena sepeda motor sudah seperti kacang goreng, hampir setiap orang bisa memilikinya. Moda transportasi ini juga menjadi salah satu biang keladi kemacetan dan kecelakaan lalulintas. Di kota kecil pun pada jam-jam tertentu seperti jam (berangkat dan pulang) sekolah akan terjadi sedikit kemacetan gara-gara siswanya banyak yang menggunakan sepeda motor. Hampir terjadi keadaan dimana 1 siswa membawa 1 motor. Bayangkan kalau jumlah siswanya mencapai jutaan orang. Oleh karena itu keberadaannya harus ditekan dengan menggunakan sistem ini.
Sistem 3 in 1 menjadi 4 in 1
Di ibukota sistem ini sudah berjalan untuk kendaraan roda empat. Namun ada saja perilaku warga yang malah memanfaatkan sistem ini untuk mencari penghasilan. Yaitu dengan menjadi joki 3 in 1. Hal ini bukannya dapat mengurangi kemacetan, tapi juga malah menambah kemacetan, karena mobil yang penumpangnya kurang dari tiga, terpaksa berhenti untuk menaikkan joki tersebut. Nah, agar pengguna kendaraan keberatan membayar joki 3 in 1 tersebut, maka harus dinaikkan menjadi system 4 in 1 atau dengan memaksimalkan jumlah tempat duduk. Sistem ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang tempat kerjanya berdekatan dan tempat tinggalnya satu arah, sehingga bisa menghemat ongkos transport.
Angkot Patas
Sistem ini, kemungkinan membutuhkan usaha yang ekstra keras dan berat, serta biaya yang tidak sedikit. Karena harus mengumpulkan para pemilik angkot. Mereka harus di koordinasikan dalam satu atap agar tidak saling serobot. Berikut ini adalah poin-poinnya:
  • Para sopir didata dan diberikan gaji tetap.
  • Tidak ada perbedaan antara angkot yang ramai atau sepi penumpang, semua mendapat gaji pokok yang sama.
  • Diterapkan sistem karcis, untuk mengantisipasi uang setoran yang dikorupsi sopir.
  • Ada absen sopir pada tiap-tiap pos.
  • Buat jadwal 5-10 menit sekali sesuai dengan jumlah angkot, dan juga menyesuaikan jam-jam padat.
  • Kalau ada yang tidak bersedia berpartisipasi, maka kendaraannya dianggap illegal. Kendaraan akan mendapat tanda tidak boleh dinaiki, penumpang yang naik juga akan dikenai denda, seperti praktek pembersihan PKL di Bandung.
Nah demikian ide-ide yang muncul dari penulis, mungkin belum sempurna dan masih banyak butuh masukan dari pihak lain. Semoga dapat sedikit membantu memecahkan permasalahan di bidang trasnportasi di Indonesia.

Pilih mana: Mempekerjakan atau dipekerjakan ?

Kerja, kerja, kerja. Itulah slogan yang selalu digembar-gemborkan oleh menteri BUMN Dahlan Iskan untuk memotivasi orang lain agar lebih sukses. Terbukti, dengan kerja keras beliau telah menggapai sukses dalam karirnya. Bahkan ia sampai diangkat menjadi menteri BUMN karena kinerjanya, bukan karena kedekatan secara personal. Dan ia memulai itu semua dari nol. Apa rahasianya? Salah satunya menurut dia adalah konsistensi.   
Tentang Bekerja dan Tuhan
Bekerja juga merupakan salah satu perintah Tuhan. Apapun agamanya. Untuk mencukupi kebutuhan hidup diri sendiri dan orang-orang disekitarnya (keluarga), manusia harus bekerja. Entah itu bertani, beternak, berdagang, menjadi karyawan di perusahaan dan lain sebagainya. Tuhan telah menciptakan bahan-bahannya, tinggal manusianya yang mengolah bahan-bahan tersebut karena mereka telah dikaruniai akal pikiran. Contohnya, sepiring nasi harus melalui beberapa tahapan dulu sebelum ia menjadi nasi itu sendiri sehingga dapat dimakan oleh manusia. Itu semua harus dilakukan dengan bekerja.
Sementara itu, dalam sebuah acara kajian yang dipimpin oleh Emha Ainun Nadjib atau lebih akrab disapa Cak Nun, ada salah satu peserta yang mengutarakan pendapatnya, bahwa ia ingin mendekatkan diri kepada Tuhannya, lalu ia keluar dari pekerjaan yang telah dijalaninya dan mengikuti jalan sufi. Kemudian Cak nun pun memberikan tanggapan; “Jika kamu bisa merasakan kehadiran Tuhan disetiap tetes keringatmu, maka itu lebih baik. Dan belum tentu dengan mengikuti jalan sufi, kamu akan menemukan Tuhanmu. Apalagi kalau cuma ikut-ikutan”
Tentang Persentase Pengusaha
Dahlan Iskan dalam sebuah seminar juga pernah menuturkan, bahwa negara tidak akan maju bila jumlah pengusahanya tidak sampai dua persen dari jumlah penduduknya. Ini merupakan ketentuan yang sudah disepakati diseluruh dunia. Untuk memulai suatu usaha, tidak ada batasan umur. Setiap orang dapat memulainya dari saat ini dengan modal berapapun. Yang terpenting adalah niat kita untuk mulai berusaha, bagaimana kita memutarkan modal yang ada dan menuangkan beragam ide kreatif yang kita miliki.
Dan sebuah negara dikatakan maju, jika jumlah pengusahanya di level 5 persen dibandingkan total jumlah penduduk. Kondisi itu memperlihatkan pentingnya peranan pengusaha terhadap perekonomian terhadap sebuah negara. Mau tidak mau, jumlah pengusaha harus ditingkatkan. Dengan banyaknya penduduk yang menjadi pengusaha atau wiraswata, maka akan menciptakan lapanan kerja baru yang dapat mengurangi angka pengangguran, dan akhirnya dapat mengurangi  tingkat kemiskinan.
Tentang Pilihan dan Memilih
Ada sebagian orang yang keluar dari pekerjaan mapannya karena ingin merasa lebih tenang. Tidak ‘ditekan’ atas-bawah kanan-kiri. Ingin merasakan berkahnya harta, dapat meluangkan banyak waktu bersama keluarga, sehingga hubungan dengan keluarga menjadi lebih berkualitas. Usia tidak habis dijalanan yang macet. Menghindari ketidakamanahan dalam bekerja, menghindari sistem yang kadang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut, sumber penghasilan yang tidak jelas halal-haramnya, lingkungan kerja yang tidak syar’i bagi kaum muslim, korupsi berjamaah, kalangan minoritas yang menjunjung tinggi nilai moral malah terpinggirkan.
Bahkan Ibu Ainun Habibie yang kala itu adalah seorang dokter, lebih memilih tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Beliau pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu, jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi, dengan risiko kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak tidak dapat ditimang dan dibentuk sendiri pribadinya?
Tapi, kalau semua orang menjadi pengusaha, lalu siapa yang akan menjadi pekerja (karyawan)? Karena tidak semua orang mempunyai keterampilan untuk bisa menjadi pengusaha. Mungkin ia lebih nyaman dipekerjakan sebagai karyawan di sebuah perusahaan, dan ia serius menjalaninya, tidak peduli dengan ajakan teman melakukan penyimpangan.
Semua itu adalah pilihan. Anda lebih cocok dimana? Passion anda dimana? Apapun pilihannya, anda harus serius, fokus dan konsisten melakukan pekerjaan anda. Bekerjalah dengan tulus. Karena disetiap tetes keringat anda terdapat berkah dari Sang Maha Kuasa. Pertolongan akan datang setingkat dengan usaha yang kita lakukan.
Sumber:
Buku Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat