Blog ini saya rasa dibuat untuk membantu mengatasi rasa penat kehidupan dan mengisi jiwa-jiwa kosong dan semu. Serta menggairahkannya dengan semacam Suplemen. Yang bisa didapat dari pengalaman maupun wawasan dan pemahaman baru. inilah Suplemen Kehidupan
Selasa, 28 April 2020
Selasa, 17 Maret 2020
Senin, 16 Maret 2020
Minggu, 23 Oktober 2016
Arisan Keluarga Bani Syadja'i : Presentasi Jabon
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4009822059521933", enable_page_level_ads: true }); </script>
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-4009822059521933", enable_page_level_ads: true }); </script>
Senin, 08 Agustus 2016
Kamis, 19 Maret 2015
Pertanyaan Filsafat
Jutaan pertanyaan yang terlontar dari anak-anak merupakan sebuah bukti bahwa anak-anak selalu penasaran serta ingin memnuaskan rasa ingin tahunya. Dari pertanyaan yang ringan, seperti mengapa kita harus mandi setiap hari, mengapa saya kecil sementara orang-orang lain kok lebih besar? Sampai pertanyaan-pertanyaan yang cukup berat seperti mengapa api panas dan es dingin, apakah ada makhluk hidup selain di Bumi? Bagi anak-anak, dunia dan segala yang dilihatnya itu adalah baru, sesuatu yang membangkitkan keheranan mereka. Ini tidak berlaku lagi bagi orang dewasa, kebanyakan dari mereka yang sudah dewasa melepaskan dan membiarkan keheranannya setahap demi setahap mati dan kemudian menganggap semua yang terjadi memang begitu adanya, tanpa perlu untuk diketahui asal muasal dan apa penyebab segala sesuatunya
#gobindvashdev – happinessinside
Selasa, 10 Maret 2015
Ngapain Bekerja ?
Ada satu pertanyaan yang hampir pasti ditanyakan jika saya
berjumpa dengan sabahat-sahabat lama atau teman-teman baru saya, yaitu apa
pekerjaan anda? Atau bekerja di mana? Sedang bisnis apa? Kedengarannya ini
pertanyaan mudah, tetapi perlu beberapa saat bagi saya untuk menjawabnya,
walaupun sudah ratusan kali saya mendapat pertanyaan yang sama. Entah mengapa
saya selalu kesulitan untuk spontan menjawabnya. Selalu muncul huruf “M” yang
panjang sebelum menjawabnya, seringkali saya jawab bahwa saya seorang
penganggur. Lalu sang penanya umumnya akan berkata, “Mana mungkin?”
Sejak kecil saya tidak pernah suka bekerja, belajar untuk
menghadapi soal-soal ujian nasional pun saya enggan, apalagi ujian biasa. Bahkan,
tidak jarang saya berjanji untuk tidak memegang lemari buku selama ujian
berlangsung. Namun walau tidak suka bekerja dan belajar, jangan diasumsikan
bahwa saya adalah anak yang malas. Dibalik semua “kemalasan bekerja”,
sebenarnya saya adalah anak yang sangat rajin untuk bermain. Buat saya tidak
ada kata “capek” untuk bermain atau melakukan yang saya sukai.
Saya sangat suka pergi ke suatu tempat yang baru, bertemu
dengan sesuatu yang baru, bereksplorasi dengan hal-hal yang belum pernah saya
ketahui sebelumnya. Ada jutaan pertanyaan di kepala saya jika menemui hal baru.
Sering saya kecewa karena banyak sekali pertanyaan-pertanyaan saya tidak
terjawab. Bahkan ketika saya menanyakannya pada orangtua atau guru di sekolah.
Berbagai jawaban saya dapatkan. Namun jawaban “emang begitu dari sananya,”
adalah jawaban yang paling gampang terlontar, karena tak bikin pusing.
Kemalasan saya ini berlanjut hingga dewasa, sampai sekarang
pun saya malas untuk bekerja.
Setelah lulus SMA, saya masuk ke Universitas hanya karena
terdorong suatu harapan baru, bahwa semua pelajaran yang membosankan sewaktu di
bangku sekolah tidak akan terulang. Seperti yang dapat diduga, saya keluar sebelum
menggembol gelar sarjana. Saat itu, dari Surabaya saya pindah ke Jakarta dan
ingin bekerja sekeras mungkin untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar
kemudian saya tidak usah bekerja lagi. Yang terpikir saat itu adalah peluang
apa yang ada dan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan rupiah.
Pagi sampai malam saya bekerja, saya tahu hati saya menangis
dan menjerit, tetapi saya tidak peduli. Yang ada dalam kepala ini hanya sebuah
pepatah yang saya yakin semua orang di negeri ini hafal luar kepala, yaitu “berakit-rakit
ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang
kemudian.”
Semangat ’45 bertahan pada tahun pertama. Tahun selanjutnya,
seperti kebanyakan orang yang telah lama bekerja di sebuah perusahaan, terbangun
karena bunyi jam weker pukul 6 pagi, mata yang berat, badan terasa pegal. Otak kita
pun mulai berperang antara satu bagian dan lainnya, yang satu berkata, “Ayo
bangun, sudah pagi, gerakkan badanmu supaya sehat.” Yang satunya dengan lembut
membujuk, “Tidurlah 5 menit lagi, kau kerja terlalu berat, tubuhmu perlu istirahat.”
Setelah itu saya bangun dengan mata yang terbuka setengah dan menyeruput kopi
sebagai sarapan sekaligus dopping. Tidak
lama kemudian teringat akan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan dan
janji yang harus ditepati. Hhh … inikah hidup? Seperti inikah hidup yang harus
setiap orang jalani? Apakah ada kehidupan yang lebih baik?
Setiap kali ada dorongan kuat untuk meninggalkan semua ini
dan menjalani hidup sesuai keinginan, setiap kali itu pula timbul perasaan sayang
jika semua yang telah dirintis harus ditinggalkan. Saldo tabungan yang meninggi
setiap bulannya benar-benar telah menjadi bola besi yang terpasung di kaki ini.
Saya tahu gaya hidup saya sangat kacau, dan mengorbankan
banyak hal termasuk kesehatan dan yang paling parah adalah mengorbankan
kedamaian pikiran. Padahal jika
dipikir-pikir, apapun yang kita lakukan dalam mencari kesenangan atau
mengumpulkan materi tujuannya adalah untuk mendapatkan kedamaian pikiran. Namun
pada saat itu saya seolah-olah tidak sanggup untuk melepaskan, ada sisi lain
dari dalam diri yang berkata, “Korbankan sebentar, nanti kau akan bahagia
selamanya.”
Saya yakin banyak dari kita yang mengalami yang saya alami,
merasa bosan dengan rutinitas seperti robot. Kita melakukan hal yang sama
setiap harinya. Hidup terasa tanpa makna, tanpa sesuatu yang benar-benar
memuaskan jiwa. Jikapun kita meminta cuti untuk liburan dan refreshing ke suatu tempat yang baru,
itu hanya sekedar kebutuhan fisik dan pikiran sesaat. Dan yang menarik, setelah
selesai liburan, muncul kemalasan seperti halnya anak kecil yang esok harinya
akan masuk sekolah setelah libur panjang.
Nasib baik mendatangi saya, apa yang saya kumpulkan selama
bertahun-tahun hilang dalam hitungan bulan, saya tidak akan membahas hal itu,
itu tidak begitu penting. Yang lebih penting adalah pelajaran yang mencerahkan
diri saya setelah peristiwa itu.
Pada awalnya memang sangatlah berat, jendela masa depan
terasa sudah tertutup rapat. Saya seolah-olah merasakan perasaan para miliarder
yang pada awal krisis moneter 1997 tiba-tiba menjadi miskin sekali, bahkan
lebih miskin dari pengemis di jalan karena banyaknya utang yang ditanggung. Dalam
dunia yang serba tidak pasti ini, apapun dapat terjadi.
Kesibukan yang sebelumnya tiada henti berganti dengan
hari-hari yang saya habiskan dengan merenung dan merenung. Handphone yang
sebelumnya berdering setiap beberapa menit kini hening. Namun dalam perenungan
itu, saya mendapat begitu banyak inspirasi, pencerahan. Saat seperti inilah
yang mungkin disebut moment “Aha!” oleh banyak penyair, pencipta lagu, serta
ilmuwan seperti Einstein dalam menemukan rumus spektakulernya, E=MC².
Saya tersadar bahwa apa yang manusia kumpulkan
bertahun-tahun dapat hilang dalam hitungan detik. Apa yang kita pelajari dan
kita diyakini sebelumnya dapat menjadi salah total. Dan yang lebih penting
lagi, saya belajar bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Ya, saya ingin
memastikan dengan mengulangi lagi bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Kita
ingin bahagia atau tidak itu pilihan kita. Terus terang, memang tidak gampang
menerima konsep ini. Saya dapat mengerti jika banyak pembaca yang tidak setuju.
Kita telah terhipnosis oleh lingkungan kita sehingga kita merekatkan
kebahagiaan dengan sesuatu di luar. Seperti saya akan bahagia jika mempunyai
deposito yang bunganya dapat menghidupi diri saya atau bahagia jika sudah
mendapatkan pasangan hidup.
Kita sering mengacaukan kebahagiaan dengan kesenangan
duniawi. Kesenangan luar inilah yang kita kejar, bukan kebahagiaan yang di
dalam. Terus terang kita sudah kehilangan arah, Socrates pada 25 abad yang lalu
telah mengatakan, “Gnothi seauton
(Kenali dirimu),” sebuah kata yang sederhana, tetapi maknanya sangat
mendalam. Setahu saya kalimat ini juga dikatakan orang-orang suci yang datang
ke dunia ini. Apa yang ingin dikatakan Socrates adalah: kita terlalu berorientasi
ke luar.
Kita lupa menengok ke dalam, kita tidak menyadari bahwa
setiap orang mempunyai misi individu. Pernahkah
kita bertanya kepada diri sendiri, apa misi kita dalam hidup ini? Pastinya,
kita bukan hidup untuk sekedar lahir, menikah, meneruskan keturunan, dan pulang
kembali.
Mengenal diri sendiri merupakan kunci penting untuk membuka
pintu untuk melangkah dalam hidup ini. Dengan bertanya pada hati kita misi
hidup ini dan apa yang benar-benar kita inginkan untuk meraihnya, tujuan kita
akan jelas. Dari sini kita dapat hidup
dan bekerja karena pilihan, bukan peluang. Memang sulit awalnya untuk mengetahui misi kita, karena pikiran kita terbiasa
berfokus keluar, bukan ke dalam. Namun mungkin kita dapat memulai dengan
bertanya pada diri sendiri, pekerjaan apa yang senang kita lakukan walau tanpa
dibayar sekalipun.
Jika kita sudah dapat menjawabnya, sebenarnya kita sudah
mulai mengenal diri sendiri. Dan langkah selanjutnya adalah melakukan keinginan
hati, atau yang sering kita dengar “ikuti kata hatimu,” lakukan apa yang hati katakan,
kerjakan dengan sepenuh hati, kepuasan pun akan datang.
Paolo Coelho, dalam buku masterpiece-nya,
The Alchemist, menulis dengan
indahnya, “Di mana hatimu berada di
sanalah hartamu terletak.” Jika seseorang bekerja sesuai panggilan hatinya,
sebenarnya orang tersebut sudah dapat dikatakan tidak bekerja, karena dia hanya
melakukan apa yang disukainya. Sejak saat itu, saya bertekad untuk bekerja
hanya pada panggilan hati saya.
Saya sangat suka berbagi pengetahuan, dan saya senang sekali
jika dapat memberikan sesuatu yang saya pikir berguna untuk seseorang. Itulah yang
membuat hati saya bahagia, tetapi apakah saya dapat hidup hanya dengan
melakukan itu? Terus terang pada awalnya banyak keraguan dan ketakutan. Keraguan
mengingat banyaknya tawaran menggiurkan datang kepada saya untuk bekerja dan
tinggal di Jakarta dengan gaji awal yang dapat dikatakan cukup tinggi. Ini makin
memperbesar ketakutan apakah saya dapat bertahan dengan berbagi?
Dunia kita ini terlalu dan selalu berfokus pada apa yang bisa
kita dapatkan sebelum melakukan pekerjaan. Hukum ekonomi yang semua orang
pelajari berbunyi pengeluaran sekecil-kecilnya dan pendapatan yang
sebesar-besarnya. Kita lupa bahwa sebelum kita memetik hasil, kita harus
menanam dulu, jika kita ingin lebih maka kita harus melakukan lebih. Inilah yang
dikatakan Oprah Winfrey pada 26 tahun yang lalu sewaktu dia memulai program talk show-nya yang mendunia. Bill Gates
pun merintis Microsoft dengan susah payah dalam garasi rumahnya.
Hal ini mengingatkan saya pada pidato terkenal dari mendiang
John F Kenedy, “Jangan tanyakan apa yang
dapat Negara berikan kepada anda, tetapi tanyakan apa yang bisa anda berikan
kepada Negara.” Pelayanan apa yang dapat saya berikan untuk membuat dunia
lebih baik, nilai tambah apa yang dapat saya wujudkan untuk perkembangan
manusia? Inilah yang seharusnya menjadi fokus kita semua. Jika kita percaya
bahwa Pencipta kita adil, seharusnya kita tidak takut untuk berbuat lebih,
bukan?
Yang menarik lagi, ketika kita fokus pada hasrat dalam diri
sendiri dan fokus pada apa yang dapat kita berikan, kita tidak takut dengan
persaingan. Kita sadar bahwa setiap individu adalah unik. Ketika kita dapat menggali dan menemukan keunikan dalam diri lalu
menggunakannya dengan fokus “memberi”, kepuasan akan bertamu dalam diri kita.
Nah, sekarang percaya kan jika saya tidak bekerja, saya
hanya melakukan apa yang benar-benar saya suka. Saya suka sekali berbagi. Saat ini
saya berbagi melalui tulisan di majalah Psikologi
Plus. Selain dari itu, saya juga berbagi melalui pelatihan stress management dan motivasi serta berbagi
dalam talkshow mingguan di Radio Duta
FM di Bali.
Suatu hari saya benar-benar kebingungan sewaktu harus
mengisi sebuah formulir berbahasa inggris yang harus mencantumkan pekerjaan
saya. Karena tidak boleh diisi dengan jobless
(penganggur). Dengan bangga saya mengisinya dengan heartworker. J
#gobindvashdev – happinessinside
Body and Mind
Pasti banyak dari pembaca akhir-akhir ini sering mendengar
istilah “Body and Mind” atau “tubuh
dan pikiran”. Banyak juga yang mengerti bahwa keduanya mempunyai hubungan yang
sangat erat. Dari waktu yang tak terhitung lamanya, dalam kitab-kitab kuno
seperti Ayurveda, hubungan keduanya telah tertulis dengan sangat jelas. Bahkan Socrates
2.400 tahun yang lalu pernah berkata, “Adalah
suatu kesalahan jika memisahkan antara tubuh dan pikiran”.
Kita semua tahu bahwa
setiap pikiran dan emosi yang membungkusnya mempunyai efek yang langsung pada
tubuh. Jika anda merasa sedih, tubuh anda akan terasa lemah, malas, wajah
mengerut, gerakan cenderung melambat, dan secara postur, tubuh akan menunduk,
tangan terlipat. Lalu jika anda sedang senang atau gembira, tubuh akan merasa
penuh energy, tersenyum, melihat ke atas, dada dan tangan terbuka. Namun,
tahukah anda bahwa hal sebaliknya pun dapat terjadi? Bahwa setiap gerakan yang
kita lakukan mempengaruhi perasaan kita. Nah, disini mungkin pembaca akan
bingung dan bertanya dalam hati, “Apa mungkin gerakan mempengaruhi perasaan?”
Sebelum pembaca berbingung ria dan penasaran, mari kita
lakukan sebuah eksperimen kecil di bawah ini.
Pertama, dengan posisi duduk, cobalah anda melipat tangan
anda kemudian geser pinggul anda sedikit ke depan tetapi punggung tetap
bersandar sehingga duduk anda tidak tegak lagi. Kemudian merunduklah dan buat
wajah anda berkerut tanpa senyum. Biarkan beberapa detik dalam keadaan
tersebut. Sekarang, cobalah ingat-ingat peristiwa yang membahagiakan tanpa
mengubah posisi tubuh dan wajah anda. Bisa? Sangat sulit sekali, bukan?
Sekali lagi, cobalah hal yang sebaliknya. Berdirilah, ambil
selangkah maju dengan kaki kiri anda. Sambil melihat ke atas, angkat kedua tangan
anda setinggi dan selebar mungkin sehingga tubuh anda menyerupai huruf “Y”,
tersenyumlah dengan lebar dan cobalah berpikir tentang kesedihan. Sekali lagi,
apakah dapat anda berpikir sedih dalam posisi tersebut?
Kedua eksperimen tadi telah membuktikan bahwa hubungan
antara tubuh dan pikiran bukanlah satu arah melainkan dua arah. Tidak hanya
setiap pikiran dan perasaan mempengaruhi mekanisme tubuh, tetapi juga setiap
gerakan tubuh atau fisiologi kita juga mempengaruhi pikiran dan perasaan kita. Setiap
otot yang berada dalam tubuh mempunyai hubungan yang langsung ke otak. Setiap gerakan
juga berpengaruh pada system endokrin atau hormonal dalam tubuh yang bertanggung
jawab terhadap perasaan kita.
Gerakan tersenyum misalnya, akan membuat kelenjar pineal
dalam otak mengeluarkan hormon endorphin,
yaitu zat sejenis morfin alami yang kekuatannya 200 kali dari morfin buatan. Endorfin ini membuat perasaan menjadi
senang dan bahagia.
Sebuah survey dilakukan tentang senyuman, dan hasil
penelitian tersebut mengungkapkan bahwa anak-anak tersenyum dan tertawa
rata-rata 300 kali dalam sehari. Sementara yang mengejutkan, rata-rata orang
dewasa tertawa dan tersenyum hanya 15 kali dalam sehari. Penelitian ini
mengungkap rahasia mengapa anak-anak lebih bahagia dan senang dibanding orang
dewasa.
Sementara gerakan bersujud yang hampir dilakukan semua umat
beragama atau kepercayaan dalam berdoa (atau dalam Yoga disebut child pose / pose anak), diteliti mampu
membawa seseorang dalam keadaan relaks. Posisi ini juga membuat darah mengalir
ke beberapa bagian dalam otak yang tidak dapat dijangkau dalam posisi gerakan
lainnya. Hubungan tentang gerakan tubuh dan pikiran inilah yang juga
menjelaskan mengapa setelah berolahraga pikiran akan merasa nyaman.
Kurang Gerak
Ada banyak sebab mengapa penduduk bumi ini semakin cepat
terkena stress. Salah satunya adalah kurangnya gerak. Semakin lama dunia
semakin memanjakan manusia. Teknologi seringkali membuat orang menjadi jarang
menggunakan kemampuan ototnya untuk bekerja.
Lihatlah di pagi hari sewaktu kita mandi, dahulu orangtua
kita menimba air di sumur, sekarang kita tinggal memutar keran dan air sudah
mengucur dari lubang shower. Dahulu manusia
pergi dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan atau bersepeda, sekarang
sepeda motor dan mobil yang ada di garasi menggantikannya. Naik turun tangga
digantikan oleh lift dan tangga berjalan. Bahkan banyak dari sahabat sulit
untuk meulis dengan tangan karena mesin tik dan tombol-tombol HP telah
menggantikannya.
Laju kehidupan bergerak lebih cepat, tetapi kita semakin
jarang bergerak, sementara kalori yang kita lahap jauh dari yang kita butuhkan.
Tumpukan energy dari makanan yang kita konsumsi dan tak
tersalurkan ini menjadikan sumbatan dalam keseimbangan tubuh kita, dan banyak
gangguan fisik dan ketegangan batin sangat mungkin berawal dari
ketidakseimbangan ini.
Ubah Gerak
Sekarang jika sudah mengetahui bahwa tubuh dan pikrian
adalah satu kesatuan dan juga setiap gerakan mempengaruhi pikiran. Pertanyaannya,
lebih mudah mana, mengubah perasaan atau mengubah gerakan? Pasti jawabannya
adalah lebih mudah mengubah gerakan bukan? Ya, jadi ubahlah gerakan anda maka
perasaan akan berubah.
Tulisan ini mungkin juga menjawab pertanyaan mengapa sahabat-sahabat
yang rutin berlatih yoga, tai chi atau teknik gerakan lain mengalami
hidup yang lebih damai dan nyaman. Anthony Robbins, pelatih sukses nomor satu
dunia pernah berkata, “Our emotion is
created by our motion.”
Emosi kita diciptakan oleh gerakan kita atau gerakan kita
mempengaruhi emosi kita.
Berjalan kaki selama 30 menit selain menyehatkan juga akan
membuat perasaan galau hilang. Untuk mengusir kecemasan atau kerisauan, coba
paksa diri anda untuk tersenyum selama dua menit, dan rasakan hasilnya.
Awalnya mungkin ini akan terasa aneh, serasa tidak lazim. Namun
jangan khawatir, semua hal yang pertama kita lakukan juga pasti terasa aneh. Pada
awalnya paksakan diri anda, dan lama-lama ini akan menjadi kebiasaan yang
bekerja di bawah sadar anda.
Hidup ini indah karena kita mempunyai kebebasan untuk
memilih. Namun, setiap pilihan tidak selalu berujung pada sesuatu yang kita
harapkan. Kadang kala, angin berembus terlalu kencang dalam pikiran kita
membuat emosi bangun dan meluap. Kita bisa marah dan menyesal setelahnya atau
kita bisa memilih untuk berjalan cepat selama 30 menit. Di kala kesedihan
berkunjung, kita pun punya pilihan untuk duduk merunduk atau melihat ke atas
dan tersenyum.
Semua adalah pilihan anda … have a wonderful life!
#gobindvashdev – happinessinside
Senin, 09 Maret 2015
Saatnya Belajar dari Wanita
Secara umum, manakah yang lebih rentan stres, pria atau
wanita? Pertanyaan ini sering muncul dalam pelatihan stres management yang biasa saya lakukan. Sebuah pertanyaan singkat
yang sederhana, bukan? Namun jawabannya, hmmm … tidaklah sesederhana itu.
Pada umumnya, wanita lebih gampang terkena stres, tetapi
saya sangat menyarankan setiap pria untuk belajar menyikapi stres dari wanita.
Lhoi kok? Ya, dan inilah sebenarnya rahasianya, pencipta kita sangatlah adil.
Dia menciptakan kekuatan dan kelemahan dalam satu kesatuan. Kekuatan dan
kelemahan yang sering kita pandang sebagai hal yang berlawanan sebenarnya
saling melengkapi.
Di dalam setiap kekuatan tersimpan kelemahan, dan juga
sebaliknya. Banyak yang memandang kecilnya seekor semut adalah kelemahan, tetapi
karena kecil maka semut bisa masuk ke tempat yang tak terjangkau oleh binatang
lain.
Begitu pula dengan wanita, banyak sekali yang melihat
sebagai kaum yang lemah. Saya pribadi melihat dengan cara berbeda 180 derajat
dari kebanyakan sahabat. Sejak kecil saya selalu mengagumi sosok wanita, saya
melihat banyak kemampuan wanita yang harus saya pelajari dalam kehidupan ini.
Setelah beribu tahun pria menjadi panutan, wanita telah
belajar banyak dari pria dalam berbagai bidang, bukankah sudah seharusnya pria
juga harus belajar dari wanita? Saya percaya, jika pria belajar dari wanita
bagaimana menghindari atau menyikapi kejadian pemicu stres yang datang, pria
akan mendapatkan hidup yang lebih berkualitas. Tulisan ini dibuat bukan
dimaksudkan membandingkan mana yang lebih baik. Namun, lebih untuk pemahaman
yang lebih tinggi antara keduanya. Walau terkesan tulisan ini hanya untuk pria,
sebenarnya wanita dapat mempelajari tentang dirinya lebih dalam dan lebih
memahami mengapa dirinya berbeda dengan pria.
Fisiologi
Secara fisiologis, otak wanita lebih kecil daripada otak
pria. Meski lebih kecil, otal wanita bekerja 7-8 kali lebih keras dibanding
pria pada saat menghadapi sebuah masalah. Di samping itu, ada sebuah jembatan
antara otak kanan dan otak kiri, jembatan ini disebut corpus callosum. Jembatan pada pria lebih tipis dan jarang,
sedangkan pada wanita jembatan ini lebih tebal dan lebih banyak 30%. Jembatan
yang lebih tebal ini memungkinkan wanita memandang sebuah persoalan lebih lebar
dan menghubungkan satu hal dengan hal lainnya. Ini membuat sebuah permasalahan
menjadi lebih kompleks.
Sementara itu, seringkali menurut para pria hal satu dan
yang lainnya tidak berhubungan. Selain secara mental, dalam memandang sebuah
persoalan, secara fisik pun hal yang sama terjadi. Ini pun berlaku pada lebar
tidaknya pandangan mata antara pria dan wanita. Wanita memandang lebih lebar
sedangkan pria lebih sempit. Oleh karena itu, jika seorang pria melihat wanita
cantik lewat harus memutar lehernya, sementara wanita yang memandang pria
ganteng cukup dengan melirik saja. J
Bukti lain dapat dilihat dalam sebuah survey kecelakaan para
pengemudi pria dan wanita. Pada mobil atau kendaraan yang dikemudikan oleh
pria, bagian yang sering kena benturan adalah kanan dan kiri, sementara wanita
depan dan belakang. Ini sebabnya wanita agak sulit untuk memarkirkan mobilnya.
Selain secara struktur otak, yang menyebabkan wanita lebih
mudah stres, ternyata seorang wanita, memiliki keinginan untuk tampil menjadi
wanita sempurna. Menjadi ibu yang welas
asih, istri yang menggairahkan, menjadi tetangga yang baik atau bos yang
berwibawa. Menurut Simoner de Beauvoir, seorang pelopor feminisme modern, dalam
bukunya Second Sex, keinginan itu
bukan berasa dari luar melainkan dari dalam diri wanita. Inilah yang membuat
wanita cenderung lebih stres.
John Gray Ph.D. yang mendunia dengan seri bukunya Men are from Mars and women are from Venus juga
mengatakan wanita ingin selalu menyenangkan orang lain, mereka ingin selalu
memberikan, tetapi tidak memberi diri sendiri dengan cukup. Semua ini membuat
wanita sering kewalahan dan menderita stres yang tinggi. Belum lagi jika
ditambah kondisi hormonal yang tidak seimbang sebelum menstruasi.
Dari fakta-fakta yang ada tersebut, dapat disimpulkan
sementara bahwa wanita mengalami stres yang lebih besar daripada pria. Namun
menariknya, 2/3 populasi yang mengkonsumsi alkohol adalah pria., 80% yang
menggunakan narkotika dan obat terlarang adalah pria, 90% yang menghuni lembaga
permasyarakatan atau penjara adalah pria. Lalu walau percobaan bunuh diri tiga
kali lebih banyak dilakukan oleh wanita, tetapi empat dari lima orang yang
melakukan bunuh diri adalah pria. Aneh bukan? Mengapa yang mengalami stres wanita
dan yang melakukan tindak kriminal adalah pria? Mengapa yang depresi lebih
banyak wanita dan yang bunuh diri lebih banyak pria?
Di bawah ini adalah tiga dari banyak perangkat lainnya yang dipergunakan
oleh wanita dalam menghadapi stres. Sekarang saatnya belajar dari wanita.
Berbagi
Disinilah sebenarnya kaum adam dapat belajar banyak dari
kaum Hawa. Pria sudah seharusnya mulai menghilangkan pola budaya turun-temurun,
bahwa setiap masalah dapat “dibereskan” sendiri. Memendam dan memikirkan
sendiri masalah sama seperti menyimpan bom yang sewaktu-waktu dapat meledak.
Setiap wanita secara alami senang mencurahkan kejadian
sehari-hari dalam hidupnya, baik itu masalah atau kejadian yang menyenangkan. Inilah
yang biasa disebut “curhat”. Wanita bericara tanpa mengharapkan solusi. Mereka berbicara
untuk melepaskan apa yang dirasakan dalam dirinya, dan ini menjadikan wanita
lebih ringan dalam menjalani hidupnya.
Dalam keadaan stres, wanita berbicara tanpa berpikir. Karena
itulah 90% dari penghuni penjara adalah pria dan 90% yang datang ke psikolog
adalah wanita. Menurut survey setiap hari wanita mengeluarkan sekitar 20.000
kata, sedangkan pria hanya 7.000 kata. Wanita suka sekali berbicara dengan sesama
jenis, ini karena otak pria tidak didesain untuk mendengar. Namun kurangnya
keterampilan mendengar bukannya tidak dapat diubah, keterampilan ini dapat
dikuasai pria dengan latihan.
Menangis
Selain berbicara, wanita juga mengeluarkan emosinya dengan
menangis. Namun, hal ini dipandang tabu oleh sebagian besar pria. Ada sebuah hukum
yang tidak tertulis dalam budaya pria, bahwa pria tidak boleh menangis. Menangis
adalah untuk wanita, untuk kaum yang lemah.
Bagi saya, menangis bukanlah hak kaum wanita saja, menangis
adalah hal yang sangat manusiawi. Sama seperti tertawa, menangis adalah sebuah
luapan emosi. Jika emosi sudah mencapai titik tertentu, air mata muncul untuk
meredakan perasaan yang bergejolak itu.
Teringat saya dengan Viktor Frankl, seorang penemu logotherapy yang pernah dipenjara di
kamp konsentrasi Auswitch. Seluruh keluarganya dibunuh kecuali saudara
perempuannya. Dalam bukunya, Frankl berkata, “Ada banyak penderitaan yang harus kita jalani. Karenanya, kita perlu
menghadapi seluruh penderitaan kita, dan berusaha menekan perasaan lemah dan
takut. Akan tetapi kita juga tidak perlu malu untuk menangis, karena air mata
merupakan saksi dari keberanian kita untuk menderita.”
Pelukan
Yang satu ini juga jarang dilakukan oleh pria, pelukan adalah
obat termurah selain tertawa. Begitu banyak penelitian tentang pelukan dan
semuanya membuktikn bahwa pelukan akan merangsang hormon oxytocin (sebuah hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan
kedamaian) keluar dan sekaligus menekan cortisol
dan norepinephrine (hormon pemicu stres).
Selain itu, oxytocin juga baik untuk
jantung dan pikiran kita.
Di Kansas, Amerika Serikat, Dr. Harold Voth, seorang
psikiater senior, telah melakukan riset dengan beberapa ratus orang. Hasilnya,
mereka yang berpelukan mampu mengusir depresi, meningkatkan kekebalan tubuh,
awet muda, tidur lebih nyenyak, dan lebih sehat. Kulit adalah organ tubuh yang
terbesar, dan dibawahnya terdapat begitu banyak kelenjar-kelenjar yang aktif
dan mengeluarkan hormon kekebalan jika disentuh.
Ada kecenderungan, semakin dewasa seseorang semakin jarang
sentuhan melekat di tubuh ini. Seorang bayi selalu dalam pelukan, seorang anak kaya
akan sentuhan orang-orang di sekitarnya, tetapi setelah dewasa sentuhan semakin
jarang. Bahkan jabat tangan dan cium pipi belum tentu setiap saat dilakukan
setiap bertemu teman. Seorang terapis keluarga yang sangat saya kagumi,
Virginia Satir, mengatakan, “Untuk bertahan hidup, kita membutuhkan empat
pelukan sehari. Untuk keseharan, kita butuh delapan pelukan per hari. Untuk pertumbuhan,
awet muda, kebahagiaan, kita perlu 12 pelukan per hari.”
Saya sangat mengerti jika otak pria tidak didesain untuk
berbagi, apalagi mendengar. Saya juga tahu jika hormon pria dan wanita sangat
berbeda sehingga menyebabkan pria susah untuk berekspresi berlebihan seperti
menangis. Saya juga menyadari jika kulit pria tidak terlalu peka dibandingkan
kulit wanita. Namun, semua bukanlah harga mati yang tidak dapat diubah, kita
dapat pelajari apa yang terbaik dari wanita. Saya yakin, kita dapat merasakan
perubahan setelah kita sadar dan mempraktekannya.
Akhir kata, selamat berbagi, menangis, dan berpelukan
#gobindvashdev – happinessinside
Minggu, 08 Maret 2015
Apa untungnya cemas
Suara pramugari terdengar lewat speaker, memberitahukan
bahwa pesawat akan kembali ke Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Sebagian besar
penumpang sudah terlelap, mengingat waktu sudah mendekati pergantian hari. Kebiasaan
membaca buku dalam pesawat membuat saya dan sebagian kecil yang masih terjaga
terhubung dengan kecemasan setelah mendengar alasan kembalinya pesawat yang
seharusnya sudah terbang ke Bali ini disebabkan masalah teknis. Saling bertatapan
beberapa kali terjadi dengan mata-mata
yang terlihat tegang, dan bibir yang terkatup rapat, sementara yang lainnya
tertidur. Pada saat itu mereka yang terjaga semua panca inderanya menjadi awas
layaknya polisi yang bertugas dalam keadaan siaga satu. Sedikit guncangan
pesawat atau suara mesin yang menderu lebih kencang saat ini akan memercikkan
kecemasan. Bukit kecemasan makin tinggi menjelang pesawat mendarat, tidak ada
yang dapat dimintai keterangan apakah pesawat mendarat dengan biasa atau
darurat. Dan nyeess layaknya es yang mencair, begitu pula perasaan cemas
meleleh habis ketika pendaratan berlangsung mulus. Doa syukur diucapkan oleh
mereka yang terjaga, yang tertidur tetap tenang dalam mimpinya. ”Seandainya
saya tidur”, pikir saya, atau saya menggunakan iPod yang memaksa telinga ini
tidak mendengar suara pramugari tadi maka ketakutan tidak bakalan menghampiri
saya.
Kecemasan muncul karena kita membayangkan hal-hal yang
menakutkan akan terjadi. Ini bukanlah sesuatu yang haram, tetapi jika mau
menghitung, sebagian besar atau hampir semua kecemasan kita tidak terjadi. Semua
itu buatan kita sendiri dan sering kali tidak beralasan kuat.
Contohnya cerita diatas, yang saya cemaskan adalah pesawat
akan mendarat darurat. Namun, setelah ketenangan mengambil alih pikiran, yang
saya cemaskan itu hampir tidak mungkin terjadi. Karena jika pesawat akan
mendarat darurat, pastilah pilot akan memberi tahu semua penumpang untuk
bersiap siaga. Namun, pada saat itu kecemasan sedang membuntal pikiran dengan
rapat sehingga pikiran hanya menatap pada bayangan terburuk yang akan terjadi.
Jika apa yang kita cemaskan itu terjadi lalu bagaimana? Jawabannya,
memang kecemasan tersebut dapat membantu kita mengatasi kejadian yang akan
terjadi? Yang ada malah membuat kita lebih panik bukan? Shakespeare sang
penulis Romeo and Juliet pernah menulis, “Ketakutan akan kemalangan
yang akan terjadi dapat menjadikan kita lebih sengsara daripada saat tibanya
kemalangan itu, yang mungkin terjadi atau tidak.”
Ketika kecemasan muncul ada banyak hal yang terpengaruh,
bukan hanya pikiran, tetapi seluruh organ di tubuh. Para ahli menemukan bahwa
kecemasan berlebihan memaksa kelenjar-kelenjar memproduksi beberapa hormon yang
berakibat kurang baik pada pikiran dan juga pada hampir seluruh organ tubuh.
Masih segar dalam ingatan saya betapa cemasnya diri saya
sewaktu terjebak kemacetan yang luar biasa pada perjalanan menuju satu bandara
di Jakarta. Saat itu saya duduk di bangku belakang taksi dan menarik napas
panjang berkali-kali. Gigi dan rahang mengatup erat, detak jantung terasa lebih
keras dan cepat, tubuh yang bergerak kesana kemari terpacu kegelisahan yang
meninggi dalam benak. Tiba-tiba saya tersadar dengan apa yang terjadi pada diri
ini, kemudian saya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah dengan menjadi cemas,
jalanan yang saya lalui akan menjadi lancar?” Anda pasti tahu jawabannya. “Kemudian
jika begitu kenapa harus cemas?” Saya terus bertanya dalam diri, dan ada
jawaban dari dalam, “Ya kan nanti jika terlambat, kan rugi, tiket sudah
terbeli.” Kemudian bagian diri saya yang lain menjawab, “Lalu jika cemas memang
tiketnya dapat diuangkan?” Dan seterusnya. Bagian diri saya yang cemas
memberikan alasan, dan bagian kesadaran yang lain memberikan jawaban yang
berlawanan.
Sebuah ayat di Kitab Matius mengungkapkan hal yang sama,
dimana Yesus bersabda, “Siapakah diantara kamu yang karena kekhawatirannya
dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”
Menciptakan Kecemasan
Salah satu yang menyabot kebahagiaan kita adalah
kekhawatiran yang kita ciptakan sendiri. Seorang sahabat saya bertanya, “Bagaimana
tidak khawatir jika semuanya serba belum pasti?”
Dari awal sampai berakhirnya penciptaan alam ini,
ketidakpastian adalah sebuah kepastian, tetapi kekhawatiran kita adalah sebuah
pilihan, bukan? Kita sudah terbiasa memilihnya sehingga kekhawatiran ini
sering tumbuh dan menjadikan seolah-olah kita tidak mempunyai pilihan lain. Setiap
hari kita mengkhawatirkan hari esok. Lalu persis hari ini, hari ini adalah hari
esok yang kita khawatirkan kemarin, bukan? Selain percaya penuh bahwa alam
memberikan yang terbaik serta berserah total pada Pencipta, alangkah indahnya
jika kita bisa mengajak puasa akar perilaku yang menyebabkan kita mempunyai
kebiasaan cemas dan khawatir.
Salah satunya adalah kemampuan mengarahkan indra kita. Dalam
kepungan media yang sedahsyat saat ini, kemampuan ini menjadi sebuah senjata
yang wajib kita miliki. Informasi yang lalu lalang, liar tak terkendali membuat
kita mudah sekali untuk menonton, mendengar, serta membicarakan sesuatu yang
awalnya terasa menyenangkan, tetapi akhirnya memberikan rasa khawatir pada diri
sendiri. Berita yang kita terima, baik dari seorang sahabat atau media, belum
tentu benar. Namun, itu cenderung kita percayai, apalagi yang sudah menjadi
gunjinganan publik.
Beberapa tahun lalu, saya mengikuti sebuah reality show di
salah satu televisi swasta, 15 orang yang berkarakter berbeda ditempatkan dalam
sebuah rumah yang tidak dihiasi TV, radio, buku, jam, atau hiburan apapun. Kami
pun tidak boleh berkomunikasi dengan dunia luar. Di rumah itu, ditempatkan
sejumlah kamera yang memantau kami selama 24 jam. Dan setiap hari kegiatan kami
disiarkan di TV selama satu jam. Setelah terekstradisi dari rumah petir
(Penghuni Terakhir), saya mencoba menjelajahi forum-forum di dunia maya, yang
membicarakan atau menggosipkan tentang kami. Hasilnya sangatlah mengejutkan,
sebagian besar opini yang terbentuk ternyata tidak sesuai dengan apa yang saya
ketahui di dalam rumah tersebut. Mereka saling berdebat, membela satu diantara
kami, atau yakin dengan pemikirannya. Ketika membacanya saya tersenyum dan diwaktu
yang sama saya mendapat banyak pelajaran. Pelajaran bahwa apa yang kita pikirkan
terhadap situasi yang terjadi di luar, seringkali tidak tepat. Ini mirip halnya
dengan begitu banyak sahabat yang memperbincangkan politik atau menebak-nebak
apa yang terjadi di balik perceraian selebriti. Dalam beberapa kesempatan, saya
berjumpa dengan sahabat-sahabat lama yang sudah menjadi public figure
dan sempat diterpa gossip. Setelah berbincang cukup lama, saya berkesimpulan
bahwa yang dipersepsikan publik berbeda jauh dari kenyataan.
Berusaha untuk tidak menggunjingkan hal-hal di luar yang
kita tidak tahu tentang orang lain adalah perbuatan bijak. Membicarakan tentang
perceraian membuat ketakutan menikah menjadi besar. mendengar banyak pertikaian
politik menjadikan kita memihak yang satu dan membenci yang lainnya. Berita bunuh
diri memberi alternatif bunuh diri bagi pikiran bawah sadar jika terimpit jalan
buntu. Belum lagi seringnya berita kriminalitas, kecelakaan atau tragedi yang
bertebaran, semua membawa ketakutan. Pada akhirnya, ketakutan yang bertumpuk
akan menjatuhkan kita ke jurang kekhawatiran dan kecemasan.
Lho, bukannya berita seperti pembunuhan, pencurian, atau
kecelakaan pesawat, apalagi bencana alam, adalah sesuatu yang benar dan
mengetahuinya akan membuat kita lebih berhati-hati? Mungkin pikiran ini tanpa
permisi akan muncul ketika membaca paragraph di atas. Ya, mungkin sekali
berita-berita itu benar dan sikap hati-hati adalah baik, tetapi cobalah sadari
apa yang kebanyakan terjadi setelah kita mengetahuinya? Kita mulai penasaran
dan mulai mencari tahu lebih dalam lagi dan lagi, sampai-sampai kita
mendiskusikan, menganalisis atau bahkan memperdebatkannya dengan orang lain. Dan
hasilnya adalah kekhawatiran yang berlebih. Ambilah contoh kecelakaan pesawat
yang terjadi secara beruntun dalam beberapa waktu terakhir ini. Berita-berita
ini menelurkan ketakutan untuk bepergian dengan pesawat, walaupun secara statistic
kasus kecelakaan pesawat jauh lebih kecil dibanding dengan moda transportasi
apa pun. Tengoklah berita ekonomi, banyak pengamat yang meramalkan akan terjadi
badai krisis pada 2009, bayangan buruk hadir di setiap kepala manusia. Akan tetapi
lihatlah, bukankah kenyataannya tidak seburuk yang dibayangkan? Sama halnya dengan
politik, atau berita ramalan yang terlalu blow up, seperti sesuai
tanggalan Maya, dunia akan berakhir pada bulan Oktober 2012. Untuk membuktikannya,
Cobalah sekali-kali menghitung persentase dari ramalan-ramalan yang beredar.
Anda akan terkejut melihat hasilnya.
Mengetahui munculnya banyak kerugian dari kecemasan adalah
sebuah awal yang baik. Membiarkan diri untuk tidak berhubungan terlalu intim
dengan sumber-sumber kekhawatiran adalah langkah lanjutan yang tepat. Di atas
semua itu, diperlukan adanya keyakinan, sebuah keyakinan penuh bahwa semua yang
terjadi di bumi yang kecil ini adalah yang terbaik. Kecemasan hanya menandakan
ketidakpercayaan pada Pencipta dan kekuasaan-Nya.
Sewaktu menulis artikel ini, alam sedang ingin bermain
dengan saya. Semua data yang termuat di laptop semata wayang saya terhapus. Seorang
sahabat yang mengetahuinya berkata, “jangan khawatir, walau kita belum tahu,
pasti ada maksud baik di balik musibah ini.” Lalu dia menutup kalimatnya dengan
mengutip sebuah lirik lagu, “segala sesuatu itu indah pada waktunya”. Dengan tersenyum
dalam hati saya menjawab, “Segala waktu itu indah pada sesuatu-Nya.”
#gobindvashdev – happiness inside
Sabtu, 07 Maret 2015
Bunuh Diri Ternyata Menular
Sudah lama saya mengamati sekaligus bertanya-tanya tentang
fenomena “menular” yang terjadi di sekitar kita. Mungkin kata “menular” identik
dengan penyakit. Hal yang akan kita bahas kali ini bukan penyakit, tetapi lebih
ke kejadian-kejadian yang kita lihat, dengar, atau baca. Jika kita perhatikan
akhir-akhir ini, terjadinya suatu kecelakaan pesawat tidak lama disusul lagi
dengan kecelakaan pesawat lainnya. Sebuah pesawat swasta nasional mengalami
kecelakaan di Solo beberapa tahun lalu, kurang dari 2 x 24 jam, tiga kecelakaan
pesawat terjadi lagi di negeri ini. Anda mungkin masih ingat beberapa bulan
yang lalu, kecelakaan kereta api juga terjadi dalam waktu yang berdekatan.
Menariknya, kejadian yang berurutan ini tidak sekedar
berlaku pada kecelakaan. Pengambilan keputusan tentang hal-hal yang sangat
personal seperti pernikahan dan perceraian juga mempunyai efek yang menular. Pernikahan
para selebritas dengan orang asing beberapa waktu lalu dan maraknya perceraian akhir-akhir
ini mungkin menjadi contoh yang baik untuk itu. Fenomena kesurupan di Indonesia
pun terjadi secara menular pada anak-anak sekolah dasar. Dan yang sangat
menyesakkan adalah fenomena bunuh diri pada remaja atau anak-anak akhir-akhir
ini.
Mungkinkah ini semua menular? Apa ini rasional? Apa yang
menyebabkan ini semua? Mengapa ini semua dapat terjadi? Bukankah selama ini
hanya penyakit fisik yang dapat menular?
Pada awalnya, hal-hal di atas saya anggap sebagai peristiwa
kebetulan semata. Namun setelah kejadian demi kejadian berulang, pastilah ini
bukan kebetulan semata.
Dalam pencarian jawaban, saya bertemu dengan pemikir cerdas,
Malcolm Gladwell, lewat bukunya, Tipping Point. Malcolm mengambil contoh
dari penelitian yang dilakukan di Kepulauan Mikronesia, Kepulauan di Laut
Pasifik, mengenai bunuh diri pada anak-anak atau remaja usia 15-20 tahun.
Sebelum 1960, belum pernah ada kejadian bunuh diri yang
dilakukan oleh remaja di Negara tersebut. Namun setelah peristiwa bunuh diri
pertama terjadi dan di beritakan di media massa setempat, angka bunuh diri pada
remaja langsung meroket. Sebagai perbandingan, angka bunuh diri di Amerika Serikat
hingga akhir ’80-an adalah 22 dari 100.000 penduduk, sedangkan di Mikronesia
angka bunuh diri sebesar 160 jiwa dari 100.000 penduduk. Ini berarti tujuh kali
lipat, sebuah angka yang luar biasa tinggi.
Menariknya, mereka melakukan bunuh diri dengan cara yang
hampir serupa. Para remaja di Mikronesia ini selalu mencari tempat yang sepi
lalu mengambil tali dan membuat simpul jerat, tetapi mereka tidak menggantung
diri seperti umumnya di Indonesia. Mereka mengikatkan tambang ke sebuah dahan
rendah atau daun pintu kemudian merebahkan tubuh ke depan sampai tambang itu
menjerat leher dengan ketat dan memutus aliran darah ke otak.
Yang lebih menyedihkan dari epidemik atau kejadian menular,
menurut antropolog Donald Rubinstain, yaitu semakin banyaknya yang melakukan
bunuh diri. Sebelumnya hanya remaja tetapi berkembang menjadi anak-anak berusia
8-9 tahun, bahkan akhir-akhir ini ditemukan mereka yang berusia 5-6 tahun. Ini sangat
memprihatinkan, apalagi sejumlah anak-anak yang selamat dari percobaan bunuh
diri, ketika ditanyai, beralasan hanya
coba-coba. Mereka melakukannya karena melihat atau sering mendengar anak-anak
yang melakukan bunuh diri.
Peranan Media
Seorang pelopor dalam bidang penelitian bunuh diri, David
Philips, dari University of California di San Diego telah melakukan penelitian
dengan mengkiliping berita bunuh diri yang dimuat di media massa. Profesor
tersebut menemukan bahwa ada korelasi positif antara pemberitaan media massa
tentang bunuh diri dengan tingkat bunuh diri di daerah penyebaran media massa tersebut.
Semakin besar jangkauan atau wilayah peredarannya maka wilayah orang yang bunuh
diri pun semakin luas. Misalnya pada saat Marilyn Monroe memilih untuk bunuh
diri, pada bulan tersebut angka bunuh diri di Amerika Serikat meningkat sampai 12%.
Jika seseorang melakukan bunuh diri dengan menabrakkan
mobilnya ke pohon, dan diberitakan di headline media massa suatu daerah,
dalam sepuluh hari ke depan angka kecelakaan meningkat tajam dengan kasus
serupa. Angka kecelakaan menurun menjadi normal setelah sepuluh hari. Berita di
media seolah-olah memberikan sebuah inspirasi pada pembacanya. Inspirasi cara
untuk menyelesaikan masalah, memberikan sebuah pembenaran bahwa suatu cara
boleh ditempuh.
Menurut Philips, cerita tentang bunuh diri adalah semacam
iklan alami tentang salah satu cara memecahkan masalah. Selain media massa,
lingkungan sekitar kita juga sangat mempengaruhi pengambilan keputusan kita. Misalnya,
kita menerobos lampu merah karena melihat yang lain melakukan hal yang sama. Atau
yang menarik lagi misalnya, jika anda berada di antrean lampu merah dan mobil
anda di urutan ke empat atau kelima, lalu muncul seorang pengemis atau pengamen
dan mendekati mobil yang ada diurutan pertama. Jika pengemudi tersebut memberi sejumlah
uang recehan kepada pengemis tersebut, kemungkinan besar pengemudi yang
diurutan kedua juga akan melakukan hal serupa.
Pengemis ini akan mendapat kemungkinan yang lebih besar lagi
di mobil urutan ketiga dan seterusnya. Saya tidak tahu apa ini namanya. Namun,
jika saya melihat hal itu terjadi di depan saya, saya atau paling tidak teman
yang duduk di sebelah saya juga akan ikut-ikutan. Kita semua seolah-olah
mendapat izin untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang lain.
Efek penularan ini bukan sesuatu yang rasional atau terjadi
secara sadar. Penyebarannya tidak bersifat persuasive, tetapi lebih samar
daripada itu.
Kembali ke maraknya bunuh diri anak yang terkadi di sekitar
kita sekarang ini, kita tahu bahwa ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi
seorang anak untuk melakukan tindakan nekat tersebut. Untuk itu, mungkin tips
di bawah ini dapat dilakukan untuk menghindari bunuh diri terjadi pada buah
hati kita.
- Saringlah Informasi
yang Masuk
Menghindarkan anak dari tontonan berita-berita
kriminal yang marak di televisi adalah langkah yang baik agar anak berpandangan
baik tentang dunia ini. Selain itu menghindari berlangganan majalah, tabloid,
atau Koran yang memuat banyak berita-berita gosip atau kekerasan adalah
tindakan bijak lainnya.
- Pilih Mainan yang
Digunakan
Temani dan arahkan anak anda untuk
memilih permainan yang digemari. Akan baik sekali jika permainan yang anda beli
untuk si kecil adalah permainan yang mengasah kemampuan sensorik dan
motoriknya.
Jika membeli DVD untuk video game, hindarkan dari permainan yang
mengandung unsur kekerasan.
- Belajarlah Mendengar
Banyak masalah anak yang berasal
dari kurangnya komunikasi dari orang tua kepada buah hatinya. Komunikasi merupakan
kemampuan yang paling penting dalam dunia ini. Kita menghabiskan sebagian
hidup kita untuk belajar membaca dan menulis. Kita juga menghabiskan waktu
untuk belajar berbicara yang baik, tetapi bagaimana dengan mendengarkan?
Jika kita ingin berinteraksi secara efektif dan mengerti
kebutuhan anak secara utuh, kita perlu mengerti apa yang diinginkan si anak
secara detail dan mendalam. Untuk ini, kita harus mendengarkan secara empati,
melihat dengan kacamata si kecil.
Kebanyakan dari kita merasa lebih pintar dan lebih tahu apa
yang dibutuhkan anak sehingga kita jarang mau mendengar mereka secara mendalam.
Kita sering sekali memotong perkataan mereka dan memberikan contoh masa lalu
kita.
Coba kita tengok sebentar, ketika seorang anak ingin meminta
pengertian dari ayahnya mengenai keengganannya untuk melanjutkan sekolah, hampir
semua ayah tak mencoba memahami alasannya. Alih-alih sang ayah langsung
menimpali dengan menceritakan bahwa dirinya bisa sukses karena dia dulu rajin
sekolah.
Ketidakpuasan anak karena tidak dimengeri akan membuat anak
menjadi pasif dalam berkomunikasi dengan orang tua. Anak akan menjawab seperlunya
dan ini akan menjadi cikal bakal tindakan-tindakan nekat sang anak, terutama
pada anak laki-laki.
Statistik menunjukkan bahwa empat dari lima orang yang bunuh
diri adalah pria. Hal ini disebabkan pria lebih sedikit berbagi, tidak boleh
menangis, dan lebih jarang berpelukan. Padahal curhat atau berbagi,
berpelukan atau menangis adalah pelepasan emosi bawah sadar yang sangat baik.
Akankah kita segera belajar untuk mendengar atau membiarkan
segala sesuatunya terlambat?
#gobindvashdev – happiness inside
Kamis, 05 Maret 2015
Pria dan Wanita, Berbedakah?
Ada sebuah cita-cita yang masih terpendam dalah hati saya
sejak remaja, yaitu menjadi konsultan hubungan atau relationship antara pria dan wanita. Mungkin ini terjadi karena
sejak beranjak remaja banyak dari sahabat maupun saudara saya yang berkeluh
kesah tentang hubungan dengan pasangannya kepada saya.
Ditambah lagi begitu banyak perceraian dan pertengkaran plus
perlakuan kekerasan. Sedih sekali melihat fenomena ini banyak terjadi di
sekitar kita. Apapun alasannya, anak selalu menjadi korban. Ada kecenderungan
bahwa semakin lama, angka perceraian semakin meningkat, apalagi di kota-kota
besar atau Negara maju. Amerika serikat contohnya, sekitar 60% dari pernikahan
berakhir. Suatu angka yang mengejutkan sekaligus mengerikan, ketika lebih dari separuh
jumlah anak di Negara super power itu
harus dibersarkan oleh orangtua tunggal atau orangtua tiri.
Dapat dibayangkan jika kita tinggal di tempat yang setengah
pendudukanya saling membenci atau paling tidak pernah berselisih, jika bagi
dunia kehadiran PBB (United Nation)
dirasa penting, menurut saya jauh lebih penting adalah adanya United Relation,
lembaga dunia yang mengurusi tentang hubungan. Jika di dunia ini banyak
konsultan keuangan, pajak, SDM, pemasaran, kenapa konsultan hubungan jarang
terdengar?
Kenyataan ini membuat saya semakin tertarik untuk banyak
belajar mengenai hubungan antar mansia.
Salah satu dari guru-guru “Hubungan” saya adalah John Gray
Ph.D. lewat seri bukunya yang sangat terkenal, men are from Mars and women are from Venus, John Gray tidak hanya
mengupas banyak hal tentang perbedaan pria dan wanita, tetapi juga bagaimana
seseorang sebaiknya bereaksi terhadap pasangannya.
Bagi saya pribadi, manusia adalah sebuah topik yang selalu
menarik dan tidak ada habisnya jika dibicarakan, baik sisi persamaan maupun
perbedaannya. Semua tahu jika pria dan wanita berbeda secara fisik, tetapi
tahukah kita jika perbedaan fisik yang mencolok ini belumlah apa-apa
dibandingkan perbedaan yang ada di dalam. Pria dan wanita sangatlah berbeda
dalam hal berpikir, merasakan, memahami, bereaksi dan mencintai. Mereka
seolah-olah dari planet yang berbeda.
Sekarang coba ingat-ingat, pernahkan anda mendengar seorang
pria mengeluh tentang wanita seperti ini, “Saya tidak habis pikir, bagaimana
dia dapat berpikir seperti itu? Itu kan
nggak ada hubungannya?”
Atau seorang wanita mengeluh, “Kenapa ya dia kok nggak bisa ngertiin saya sedikit saja?”
Pastinya keluhan semacam ini sering kita dengar kan?
Pada suatu saat yang hanya dipisahkan jam, saya pernah
bertemu dengan sepasang kekasih di tempat yang berbeda, sang wanita berkata,
“saya selalu perhatian sama dia, tetapi kok
dia tidak pernah perhatian sama saya.”
Sementara beberapa saat kemudian di tempat berbeda sang pria
juga berkata, ”Saya sudah mengorbankan waktu saya, tetapi kelihatannya dia
tidak bahagia.”
Dapatkah anda lihat, kedua pasangan ini saling memberi,
tetapi seolah-olah keduanya tidak menerima apa-apa. Mengapa ini terjadi?
Jawabnannya karena kebutuhan mereka berbeda. Pria haus dan wanita lapar, pria
ingin minum tetapi yang ditawarkan adalah makanan, dan juga sebaliknya.
Menurut survey, hal yang paling dikeluhkan wanita terhadap
pria adalah pria tidak mendengarkan wanita dengan baik, ini dapat dipahami karena
dalam mendengar otak pria tidak sebaik wanita. Sementara hal yang paling tidak
disukai pria terhadap pasangannya adalah bahwa wanita mencoba untuk tidak
menasihati pria jika tidak diminta.
Otak pria terkotak-kotak dan mampu memilah-milah informasi
yang masuk. Di malam hari, setelah seharian penuh aktivitas pria dapat
menyimpan semuanya di otaknya. Sementara otak wanita tidak bekerja seperti itu,
informasi atau masalah yang diterimanya akan terus berputar-putar dalam
otaknya. Dan ini tidak akan berhenti sampai dia dapat mencurahkan isi otaknya,
alias curhat.
Oleh sebab itu, secara umum jika wanita bicara tujuannya
adalah untuk mengeluarkan unek-uneknya, bukan untuk mencari solusi. Namun, apa
yang terjadi? Pria langsung memberikan solusi saat mendengar keluh kesah
pasangannya. Padahal seringkali bukan itu yang diharapkan. Wanita hanya
mengharapkan pasangannya mendengar isi hatinya, begitu semua yang ada di hati
keluar, wanita merasa lega dan dapat mencintai dengan lebih dalam.
Rata-rata wanita dapat bicara 20.000 kata dalam sehari.
Sementara pria hanya sekitar 7.000 kata sehari. Perbedaan ini kelihatan jelas
ketika jam makan malam tiba. Pria sudah menghabiskan 7.000 katanya dan tidak mood lagi untuk bicara lebih lanjut. Persediaan wanita tergantung dari apa
yang sudah dia lakukan sepanjang hari. Jika dia sudah banyak berbicara dengan
orang lain hari itu, dia pun akan sedikit berbicara. Jika dia tinggal di rumah
saja, mungkin dia sudah menggunakan sekitar 3.000 kata. Masih ada 17.000 kata
lagi!
Berbeda dengan wanita, pria jika mempunyai masalah, dia
cenderung untuk diam, membaca surat kabar, nonton TV, atau bermain bola. Otaknya
akan terus berpikir untuk solusinya. Namun, keadaan seperti ini oleh wanita
diartikan sebagai tindakan yang mengabaikan
dirinya. Wanita mulai tersinggung kala pria mengalihkan perhatian pada
berita-berita atau bermain basket di luar.
Pada saat seperti itu, wanita mulai mendesak pria untuk
berbicara mengenai masalahnya. Wanita mengharapkan pria dapat berbagi seperti
wanita untuk melegakan perasaannya. Namun ini tidak akan terjadi, jika masalah
seorang pria terlalu besar, pria akan mencari seseorang yang dianggap cakap
untuk membantu menyelesaikannya. Sementara wanita merasa senang jika
membicarakan detail-detail kesulitannya saja.
Pada pria, sebuah persoalan harus diselesaikan, tetapi bagi
wanita persoalan harus di sharing,
tanpa harus selalu ada penyelesaiannya. Fenomena yang terjadi di sekitar kita: Jika
seorang pria mendengar keluhan dari wanita, pria secara insting akan menyela dan
memberikan solusi. Padahal hal ini tidak diperlukan oleh pasangannya, yang
diperlukan adalah telinga untuk mendengar dan sebuah pelukan yang hangat untuk
menetramkan.
Begitu juga dengan wanita, jika pasangannya mempunyai persoalan,
wanita cenderung mendesak sambil bertanya kenapa sang pria sangat diam dan dia
tidak mau berbagi. Akan baik sekali jika wanita menahan
pertanyaan-pertanyaannya hingga pria berbicara sendiri. Menanyai seorang pria
yang mempunyai persoalan, apalagi memberi nasihat, akan membuat pria semakin
tidak nyaman dan lebih tertutup.
Apa yang tertulis di atas adalah secuil perbedaan antara
pria dan wanita. Jika kita mau dan belajar memahami perbedaan-perbedaan ini
lebih luas, kita akan sangat mungkin menguraikan banyak kekecewaan dalam
bergaul. Kesalahpahaman dapat lenyap dengan cepat atau dapat dicegah. Harapan-harapan
yang keliru dengan mudah dapat dikoreksi. Jika kita ingat bahwa pasangan kita
berbeda bagaikan berasal dari planet lain, kita dapat santai bekerja sama
dengan perbedaan-perbedaan itu, bukannya melawan atau mengubahnya. Mengetahui perbedaan
kebutuhan kita dengan pasangan dan sanggup menerima perbedaan-perbedaan
tersebut adalah cara untuk mengembangkan cinta.
Sebelum bagian ini berakhir, ada baiknya kita bertanya pada
diri sendiri, manakah yang lebih penting antara bisnis, karier, uang, dan
keluarga? Jika jawaban anda adalah keluarga, mungkin tulisan di bawah ini
adalah sesuatu yang perlu direnungkan.
Setelah kita belajar
banyak tentang bagiamana memulai bisnis, bagaimana meningkatkan karier, dan
bagaimana mengembangkan uang, sudah cukupkah kita belajar tentang pasangan
kita, sudahkah kita belajar mengatasi tantangan yang akan timbul dalam rumah
tangga?
Sewaktu bisnis kita akan jatuh, apa yang akan kita lakukan? Kita
akan mati-matian mengupayakan untuk dapat bangkit, kita menginvestasikan waktu
lebih lama di kantor, tenaga dan pikiran juga kita curahkan sepenuhnya. Tidak jarang
kita membayar konsultan untuk memberi ilmu yang akan membantu bisnis agar
terselamatkan.
Namun apakah kita akan berbuat hal yang sama jika itu
terjadi di dalam kerluarga? Jika hubungan mulai retak, apakah kita akan lebih
lama tinggal di rumah atau merencanakan bulan madu yang kedua? Akankah kita
mencurahkan tenaga dan pikiran lebih banyak pada hubungan kita? Akankah kita
memanggil seseorang dan belajar kepadanya apa yang harus dilakukan?
Hmmm, something to
think about?
#gobindvashdev – happinessinside
Selasa, 03 Maret 2015
Sabar tidak harus menunggu tua
Sabar ya, Ver … sabar … kita harus sabar dalam menghadapi
cobaan hidup ini ….” Arif mencoba menenangkan Vera teman kuliahnya.
“Gimana mau sabar, Rif, kamu kan tahu? Si Novi itu sahabatku
yang paling dekat, kok tega-teganya dia ngatain
aku seperti itu, huuh… keterlaluan.”
“Aku tahu, Ver ini memang keterlaluan,” sahut Arif. “Namun,
kita harus bisa menerima dan sabar dalam menghadapinya.”
“Sabar, sabar … dari tadi kamu bilang sabar dan sabar … tapi
bagaimana caranya … ?
Barangkali kita pernah mendengar hal serupa. Setiap kali ada
teman atau saudara kita yang sedang marah atau sedih, yang dapat kita lakukan
adalah menasehatinya dengan kata “sabar”. Namun, jarang sekali ada orang
memberi tahu bagaimana caranya untuk bersabar. Kebanyakan dari kita hanya
berhenti di sini, jika ditanya, “Sabar itu bagaimana?” jawabannya, “Ya harus
dapat menerima,” titik sampai di sini.
Banyak sekali di sekitar kita percaya bahwa sabar adalah
sifat yang dibawa sejak lahir. Sebagian lagi percaya jika orang bisa sabar jika
usianya sudah mulai tua. Salah seorang teman saya berkata, “Sabar bisa didapat
jika seseorang sudah banyak mendapat cobaan hidup yang berat.”
Tidak ada yang salah jika ada orang berpendapat seperti itu.
Namun, saya juga percaya jika kita bisa belajar dari orang-orang yang terbukti
sabar. Lalu jika kita gunakan ilmu yang sama, pasti kita akan menjadi orang
yang sabar juga sehingga kita tidak harus menunggu tua atau mengalami ujian
yang berat untuk dapat sabar. Bukankah begitu?
Dalam perjalanan panjang melalui perenungan dan belajar dari
guru-guru dunia, baik secara langsung atau melalui karyanya, secara singkat
dapat saya simpulkan, bahwa mereka yang sabar dan yang tidak sabar hanya
dibedakan oleh satu hal, yaitu program atau kata-kata yang tertanam di dalam
otaknya.
Mungkin contoh di bawah ini akan membuat lebih jelas.
Amir mempunyai program kata-kata di dalam dirinya, “Jika
orangtua saya dihina maka orang yang menghina itu akan saya peringatkan. Jika
setelah itu masih menghina maka saya akan menghajarnya.”
Bandingkan dengan Budi yang mempunyai program sebagai
berikut, “Jika ada yang menghina ibu saya, saya akan peringatkan. Jika masih
membandel maka saya akan anggap dia orang gila.”
Bayangkan jika ada yang menghina orangtua Amir, apa yang
terjadi? Bertengkar atau bahkan bisa bunuh-bunuhan. Bandingkan jika hal yang
sama terjadi pada Budi, Budi dengan tenangnya akan melenggang dan menganggap
bahwa yang menghina ibunya hanyalah orang gila.
Amir bisa berurusan panjang dengan polisi dan penjara pun
menantinya. Belum lagi dendam yang akan dibawa dalam hatinya. Sedangkan Budi
sudah sampai di rumah dan sudah lupa akan peristiwa tadi.
Teman, sedikit perbedaan dalam program di kepala kita ini
dapat membuat perbedaan tindakan yang sangat signifikan, yang mungkin sekali
berpengaruh dalam hidup ini. Bahkan nasib kita pun dapat ditentukan dari sini.
Jika kita pikir kembali, sering kali kita tidak tahu dari
mana program atau kata-kata ini ada dalam benak kita, tahu-tahu itu sudah ada
di dalam otak kita.
Tak dapat dipungkiri, faktor-faktor eksternal sangat mempengaruhi
program-program tersebut. Tanpa kita sadari, semakin lama ini menjadi sangat
kuat mendekam dalam bawah sadar kita, dan lama-kelamaan menjadi keyakinan yang
sangat kuat.
Mungkin sekali keyakinan ini muncul karena pengalaman orang
lain yang kita dengar atau kita lihat. Atau dapat juga nilai-nilai dalam
masyarakat sekitar kita. Bila kita tinggal di Solo, mungkin saja akan sangat
berbeda dengan bila kita dibesarkan di Madura.
Misalnya, suatu hari si Iwan berada di halte bus dan tiba-tiba
seseorang lewat dan meludah persis di depan kaki Iwan, apa reaksi Iwan? Mungkin
sekali Iwan akan marah. Namun, jika kejadian ini terjadi di sebuah Negara di
Afrika, tempat jika dua orang bertemu mereka akan saling meludah, akan berbeda
artinya.
Ludah adalah ludah, tidak mempunyai arti apa-apa, program di
kepala kitalah yang memberi arti dan yang mengakibatkan kita bereaksi atau
bertindak.
Orang yang dikatakan tidak sabar mempunyai kata-kata di
dalam dirinya, jika ada orang meludah di depan saya, itu artinya sama dengan
menghina saya. Sedangkan orang yang sabar pasti punya program dan arti yang
lain.
Lalu bagaimana caranya jadi orang sabar? Ganti saja
programnya !!
Apa mungkin? Sangat mungkin, kenapa tidak? Jika kemarin kita
memasukkan prigram secara tidak sadar, kini setelah kita tahu, kita dapat
memasukannya dengan sadar. Setiap manusia mempunyai kemampuan ini, tanpa
terkecuali! Sebuah kemampuan secara intelektual yang tidak dipunyai makhluk
lain. Memang tidak akan secepat membalik telapak tangan, hal ini perlu latihan
juga sama seperti otot yang menguat karena dilatih, otak kita pun perlu dilatih
untuk menjadi kuat.
Mulailah dari hal-hal kecil
Sama seperti jika kita ke gym atau fitness center,
beban yang kita angkat tidak mungkin langsung yang berat, tetapi yang
ringan-ringan dulu. Jika kita harus bersepeda untuk pemanasan, kita pun harus
pelan-pelan dulu dan tidak boleh terlalu lama. Sekarang, cobalah cari dalam
kehidupan anda sehari-hari, hal-hal kecil yang membuat anda marah atau merasa
tidak nyaman. Kemudian tanyakan pada diri sendiri, program atau kata-kata apa
yang ada dalam benak saya yang membuat saya marah. Kemudian dengan sadar
carilah program yang lebih baik atau gantilah dengan kata-kata yang membuat
anda merasa nyaman.
Pengalaman saya dalam menyetir mobil di Jakarta mungkin
dapat dijadikan contoh di sini.
Pada awalnya saya begitu stress, cepat naik darah,
uring-uringan sendiri sewaktu mengemudikan mobil di Jakarta. Saya biasanya
menghabiskan waktu dengan membaca buku sewaktu menunggu lampu lalu lintas, dan
sesaat sebelum lampu hijau menyala, mobil di belakang saya sudah membunyikan
klakson dengan panjangnya. Bunyi klakson inilah yang membuat saya naik pitam, ‘huuuuuh,
belum juga hijau sudah ngebel…heran deh,” dan tak jarang kalimat makian ikut
keluar.
Bel itu saya artikan sebagai teriakan keras bahwa saya orang
yang lambat, tidak siap atau bego. Setelah
saya paham bahwa yang membuat saya marah sebenarnya bukan bel tersebut, tetapi
program yang sudah tertanam dalam diri saya, perlahan-lahan saya mengubahnya
dengan kata-kata yang lebih baik. Saya mengubahnya dengan kata-kata, “Hai
teman, sebentar lagi lampu akan hijau, mari kita jalan yuuukkk…”
Awalnya memang berat dan agak terasa aneh, sama seperti pada
saat fitness atau olahraga lainnya. Awalnya
badan akan sakit, letih dan tidak nyaman, tetapi setelah latihan beberapa kali,
anda akan terbiasa.
Sekarang, setiap bel saya dengar di lampu merah atau di
tengah jalan, semuanya terdengar seperti sapaan seorang sahabat lama, sangat
indah. Sampai-sampai sering saya tersenyum dan berucap, “terima kasih.”
#gobindvashdev – happinessinside
Senin, 02 Maret 2015
Walk The Talk
Salah satu hal yang menyenangkan bagi saya sebagai pembicara
publik bukanlah sewaktu menerima honor, tetapi ketika ada seseorang yang
menghampiri saya dan berkata, “Terima kasih pak, apa yang bapak sampaikan
sungguh berguna untuk kehidupan saya”. Dan yang lebih membahagiakan saya adalah
ketika ada seseorang yang menyapa, dan berucap terima kasih bahwa ada banyak
perubahan positif dalam hidupnya setelah mengikuti pelatihan yang saya bawakan
beberapa waktu sebelumnya.
Penuh saya sadari saat itu bahwa angin perubahan yang telah
terjadi sebagian besar akibat peran orang tersebut. Yang membuat saya senang adalah
pertama karena apa yang saya kerjakan
selama ini paling tidak bukan sesuatu yang merusak, dan yang kedua adalah walaupun sekecil apapun,
alam semesta melibatkan saya dalam proses perubahan dalam orang tersebut.
“Perubahan” inilah kata sakti yang dijual dalam hampir semua
proposal, brosur, spanduk, poster para pelatih, pembicara publik, atau bahkan
penulis. Kata ini juga yang sebenarnya paling diinginkan terjadi, baik seketika
atau tidak. Dan demi membuat impact
perubahan yang lebih besar, para pelatih berlomba-lomba mempelajari ilmu dan
teknik terbaru mempengaruhi orang lain.
Jika dahulu seminar atau workshop
dilakukan satu arah, sekarang dua arah, dahulu duduk diam sekarang bergerak
dengan permainan, simulasi. Ada juga dengan mempraktikkan sulap, relaksasi,
bahkan terapi. Tentu ini semua membuat suasana belajar lebih menarik dan
memancing perhatian para peserta sehingga apa yang disampaikan dapat meresap
pada benak peserta.
Berapa persen keefektifannya dalam membuat perubahan? Terus terang
saya tidak tahu, ya tentunya lebih efektif daripada cara lama. Namun, pastinya
dari pengalaman mengikuti banyak seminar dan pelatihan rasanya lebih banyak
yang belum berubah daripada sebaliknya. Sempat saya bertanya pada beberapa
pembicara ternama, mengapa ini terjadi, mengapa lebih banyak yang tidak
berubah?
Beberapa jawaban yang saya dapat adalah, “Mereka tidak
konsisten menerapkan tool yang saya
berikan, makanya tidak ada perubahan.” Yang agak cuek menjawab, “peran saya hanya
memotivasi, selanjutnya terserah mereka.“ Yang lebih menarik ada yang menjawab,
“Mereka kan datang kesini bukan karena kemauannya, tetapi disuruh dan dibayar
oleh perusahaannya, mereka memang belum mau berubah, jadi diapa-apakan juga
sama saja.”
Menanggapi jawaban terakhir ini saya pernah mendengar ada seorang
pembicara yang sudah tidak mau lagi diundang berbicara dalam perusahaan atau
yang biasa disebut in house training
karena alasan tersebut.
Apa yang dikatakan pembicara papan atas itu memang susah
untuk disangkal, bahwa perubahan semestinya dari diri sendiri. Para pelatih ini
hanya memberikan alat, motivasi, arahan dan semacamnya. Tetapi perubahan
terletak pada orang itu sendiri.
Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, jika begitu
ceritanya, apa yang terbaik yang manusia lakukan untuk dapat membuat perubahan
dalam diri orang lain? Akhirnya, saya menemukan dalam sebuah kalimat yang pernah
diucapkan oleh seorang yang sangat besar dalam memimpin perubahan, yaitu
Mahatma Gandhi. “Be the change that you want to see in the world,” begitulah
bunyinya.
Jadilah perubahan seperti yang ingin kau lihat.
Biarkan saya mengambil sebuah cuplikan kehidupan Gandhi yang
senada dengan apa yang dia katakan.
Suatu hari, seorang ibu membawa anaknya datang kepada
Gandhi, dan berkata, “Gandhi, maukah engkau menasihati anak saya ini? Dia mempunyai
sebuah penyakit, yang untuk kesembuhannya, dia tidak boleh mengkonsumsi garam. Tolong
beri nasihat kepadanya untuk tidak makan garam, saya dan keluarga bahkan dokternya
pun sudah berulangkali menasihatinya, teapi dia masih tetap makan garam, saya
sudah kehabisan kata-kata, tolonglah saya, siapa tahu dia akan menurutimu.”
Dengan tersenyum dan suara lembut Gandhi berkata, “Ibu,
sekarang saya tidak bisa berkata apa-apa, silakan ibu pulang dan bawa anak ibu
ke sini minggu depan.”
“Gandhi,” kata ibu itu, “anak itu di depanmu sekarang, tidak
bisakah kamu sekarang menasihatinya?” Gandhi dengan senyum yang selalu di
bibirnya hanya menggelengkan kepalanya yang menandakan tidak.
Dengan perasaan campur aduk, ibu itu pulang dan tepat satu
minggu mereka berdua ada dihadapan Gandhi. “saya sudah menunggu satu minggu,”
kata ibu itu kepada Gandhi, “sekarang berikan nasihat itu.” Kemudian Gandhi
datang mendekat ke anak itu, dan menasihati anak itu untuk tidak makan garam. Apa
yang dikatakan Gandhi tidaklah istimewa, tidak ada sesuatu yang baru, hanya
sebuah nasihat yang sederhana, tidak lebih.
Pada saat itu sang ibu merasa sedikit kecewa karena dalam
penantiannya satu minggu dia berharap Gandhi akan melakukan sesuatu yang lebih
daripada kata-kata yang biasa.
Tidak lama kemudian, Gandhi meminta ibu dan anak itu pulang,
kali ini perasaan ragu-ragu menyelimuti si ibu. Si ibu tidak yakin ini akan
berhasil. Namun yang terjadi sebaliknya, anak ini berhenti makan garam. Ibunya berpikir
mungkin ini hanya akan terjadi satu atau dua hari, tetapi kenyataannya lebih
dari itu, anak tersebut total berhenti makan garam selama berhari-hari, bahkan
berminggu-minggu.
Didorong rasa penasaran yang tinggi, seorang diri ibu ini
menghadap ke Gandhi untuk ketiga kalinya dan langsung bertanya: “Gandhi, rahasia
apa yang kamu miliki sehingga kamu bisa membuat anak saya berhenti makan garam?”
Tanya si ibu. ‘Kata-kata yang kamu ucapkan adalah kata-kata biasa, saya sering
menasihatinya dengan cara yang sama. Menurut saya dokternya menasihati dengan
cara yang lebih baik, tetapi mengapa anak saya menurut kepadamu?”
Dengan lembut Gandhi menjawab pertanyaan ibu ini dengan
jawaban: “ibu masih ingat pada kali pertama ibu kesini dan saya meminta ibu
datang satu minggu kemudian?”
“Ya, itu dia kenapa, terus terang saya masih penasaran.” Sahut
ibu itu dengan cepat.
“Pada saat itu saya belum bisa menasihati anak ibu untuk berhenti
makan garam, karena pada saat itu saya masih mengkonsumsinya, sepulang ibu dari
sini, saya berhenti makan garam, sampai kemudian ibu datang lagi, baru saya bisa
berbicara untuk tidak makan garam ke anak ibu.”
Wow inilah kualitas seorang Gandhi. Dia hanya berbicara apa
yang telah dilakukannya saja, dalam istilah bahasa inggris ini disebut walk the talk. Meski terlihat tidak ada
hubungannya, apakah Gandhi makan garam atau tidak, toh anak itu tidak tahu, bukan? Namun, menurut saya itu adalah
bentuk komunikasi nonverbal yang sangat dalam.
Selama ini, dalam pelatihan atau seminar yang saya ikuti
tentang komunikasi diajarkan bahwa bentuk komunikasi nonverbal adalah bahasa
tubuh dan vokal. Untuk memengaruhi orang kita harus membangun kepercayaan, dan
untuk itu kita harus menyamakan gerak kita dengan orang yang akan kita ubah. Seperti
memainkan intonasi sebelum menutup pembicaraan, berbicara dengan nada dan mimik
tertentu agar dapat dipercaya dan lain sebagainya.
Ternyata kekuatan nonverbal terbesar bukanlah disana, tetapi
sebuah hal yang tak terlihat sama sekali, yaitu sebuah kejujuran dalam
berpikir, bertindak dan perkataan yang keluar sesuai dengan apa yang telah
dikerjakan. Jika kita lihat sosok manusia yang diberi gelar Mahatma ini,
sangatlah tidak meyakinkan: postur tubuh yang kecil, berambut jarang, suaranya
lembut, gayanya yang tenang dan kalem terkesan lemah.
Dia jauh dari gaya seorang motivator yang mampu membakar
semagat ribuan orang dihadapannya. Namun, Gandhi menurut saya adalah sosok
manusia yang susah dicari tandingannya di zaman ini.
Bahkan kehebatan Gandhi membuat sang fisikawan genius Alber
Einstein tidak tahan untuk mengeluarkan kata-kata, “Pada saatnya akan banyak
orang yang tak percaya dan takjub bahwa pernah hidup seorang seperti Gandhi di
muka bumi.” Bagaimana tidak? Ketika dia bicara, tidak kurang dari 400 juta
rakyat India mendengar dan juga melakukan apa yang dia minta. Dia bukanlah
seorang penguasa, tidak mempunyai senjata ataupun pangkat yang dapat mengancam
atau menakut-nakuti orang lain. Kekuatan Gandhi berasal dari dalam, dari
integritas walk the talk yang
dilakoni selama hidupnya.
Mungkin inilah tantangan terbesar dari pembicara atau
pelatih, dia harus melakukan apa yang dibicarakan dahulu untuk mendapatkan
hasil yang maksimal. Belajar sesuatu yang baru, membaca, mengikuti seminar
untuk mendapat ilmu baru bukanlah hal yang susah. Membagikan apa yang didapat
dengan cara dan sudut pandang berbeda perlu latihan, tetapi bukan hal yang
berat jika dibandingkan dengan walk the
talk.
Ungkapan bahwa “action speak louder than words”
sangatlah tepat. Ini juga membongkar teka-teki mengapa anak para professor atau
doktor juga menjadi anak yang pandai. Sebelumnya mungkin dipercaya bahwa itu
adalah karena unsur bawaan atau genetika, tetapi sebenarnya yang lebih tepat
anak-anak ini melihat para orang tuanya belajar. Sementara kebanyakan orang tua
meminta anaknya membaca atau belajar hanya dengan perintah saja.
Sewaktu menulis artikel ini, saya teringat wajah keluarga
dan juga sahabat-sahabat saya yang mengubah gaya hidupnya menjadi vegetarian. Saya
tidak pernah memintanya, mereka melakukan dengan sendirinya dan efeknya
permanen. Saya bahkan tidak mengira ini akan terjadi. Saya hanya melakukan
untuk diri saya sendiri dari kecintaan saya terhadap makhluk lain. Bagi saya,
tidaklah adil jika hanya untuk memuaskan sepuluh sentimeter lidah ini, saya
harus mengorbankan sebuah nyawa.
Hari ini, sudah lebih dari setahun saya mandi tanpa
menggunakan sabun, dan menggantinya dengan garam. Menggantikan foam pencukur
jenggot dan kumis dengan lidah buaya. Sementara untuk mencuci rambut, mencuci
piring dan baju serta mengepel, saya memakai larutan buah klerek. Kemana-mana
membawa botol air minum, hanya membeli buah local, berbelanja tanpa meminta tas
plastik dan banyak lainnya yang sering menjadi bahan tertawaan teman-teman.
Awalnya, semua terlihat berat dan aneh. Sama seperti
mengawali menjadi vegetarian di usia yang belum genap 20 tahun waktu itu. Namun
kecintaan pada lingkungan serta semangat dari orang-orang besar, Gandhi salah
satunya, terus terngiang di telinga, “Be the change, Be the change, Be the change
that you want to see in the world.”
#gobindvashdev – happinessinside
Sabtu, 28 Februari 2015
Setiap Waktu adalah Waktu Belajar
“Belajar”, itulah jawaban pelatih sukses dunia Anthony
Robbins ketika ditanya mengenai rahasia kesuksesan dirinya dari seorang
pembersih toilet berpenghasilan puluhan dolar hingga menjadi seorang
multimiliarder.
Mendengar kata belajar, pastilah membawa ingatan kita ke
masa-masa sekolah, hampir tiada hari tanpa membaca buku, menyimak guru mengajar
dan mengerjakan tugas. Semua itu serasa tidak pernah ada habisnya.
Berkebalikan dengan sahabat-sahabat yang meninggalkan buku
selepas sekolah, saya mulai membaca setelah tidak menyandang status murid. Tanpa
ingin menyombongkan diri, dulu dimasa sekolah saya adalah murid yang paling
rajin membolos, jawara dalam tidak mengerjakan PR dan selalu menduduki
peringkat 3 besar dari bawah.
Sadar tertinggal jauh dari teman-teman yang lain, disertai
keinginan kuat untuk bisa berguna bagi dunia ini, mata saya mulai terbuka. Pentingnya
arti belajar tertanam dalam di benak ini dan diwaktu itulah perubahan seketika
terjadi. Saya mulai belajar dua kali lebih keras dan berpikir dua kali lebih
kuat. Dan saat ini tanpa menggurui pembaca, izinkan saya berbagi tulisan
mengenai “belajar”.
Bukan belajar seperti membaca dan mengetahui teori saja. Menurut
Anthony Robbins, belajar itu seperti mengendarai mobil. Jika kita mengetahui
dimana pedal gas, rem dan kopling serta cara memindahkan gigi, itu berarti kita
belum belajar. Belajar artinya melakukan tindakan baru, sebuah tindakan yang
konsisten dan berkesinambungan sehingga yang kita pelajari menjadi sebuah kebiasaan.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Konfusius, “To know but not to do is not yet to know,”
mengetahui, tetapi tidak melakukan sama artinya dengan tidak mengetahui. Melakukan
atau mengambil tindakan dari apa yang diketahui itulah inti dari belajar. Dan jika
tindakan ini diulang dan diulang terus maka keterampilan akan muncul. Dengan keterampilan
inilah keunggulan seseorang diakui orang lain. Pandangan serupa juga diungkap
oleh filsuf terkenal Yunani Aristoteles, “Kita
adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang… maka keunggulan bukanlah suatu
perbuatan melainkan hasil dari kebisaaan.” Seseorang dapat meraih juara
dalam turnamen bulu tangkis karena dia belajar terus. Kita semua pada awalnya
sama, kita tidak punya kemampuan apa-apa. Kita belajar berjalan, belajar
berbicara dan belajar bagaimana untuk makan dengan sendok dan garpu. Apa pun
yang kita mampu lakukan saat ini semuanya akan diawali dengan belajar, bukan?
Sikap Mental
Jika ditanya, pada masa apakah manusia belajar paling
banyak? Pada saat dewasa, remaja, atau pada saat kita kanak-kanak? Ya,
jawabannya pastilah saat anak-anak. Sewaktu masih anak-anak, manusia belajar
lebih banyak dibandingkan masa manapun dalam pertumbuhannya. Sampai-sampai
Robert Fulghum, seorang pendeta Unitarian menulis buku All I really need to know I learnerd in kindergarten (Semua yang
perlu saya ketahui telah saya pelajari di taman kanak-kanak).
Anak-anak mempunyai sikap mental yang luar biasa. Mereka melihat
segala seuatu dengan apa adanya. Anak-anak mempertanyakan segala sesuatunya,
tidak ada kata “tidak mungkin” dalam benaknya. Fantasi mereka jauh melampaui
logikanya. Dari sisi inilah kita sebaiknya belajar pada anak-anak, tentang
belajar itu sendiri.
Paling tidak ada tiga sikap mental dari anak-anak yang harus
kita lakukan. Secara sederhana, sikap ini bisa dianalogikan seperti menuang air
dari botol ke sebuah gelas. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah
gelas agar dapat terisi air.
Syarat pertama adalah terbuka, hanya dengan gelas yang
terbukalah air dapat masuk. Hanya dengan berpikiran terbuka (open mind) suatu ilmu dapat mengalir ke
dalam diri ini. Seseorang dapat bersikap terbuka karena memiliki keingintahuan
lebih banyak. Dalam bahasa lain, kita menyebut rasa ingin tahu yang besar layaknya
seorang bocah ini sebagai rasa penasaran. Penasaran ternyata adalah suatu
elemen yang utama dalam menimba ilmu.
Bahkan, manusia terjenius sepanjang sejarah, Leonardo da
Vinci, menempatkan curiosita atau rasa
ingin tahu ini sebagai prinsip pertama dari tujuh prinsip da vinci, seperti
yang ditulis oleh Michael J. Gelb dalam buku apiknya menjadi jenius seperti Leonardo da Vinci. Hampir serupa dengan
Leonardo da Vinci, Albert Einstein pernah berkata jika dia bukanlah orang yang punya
bakat khusus, melainkan orang yang punya rasa penasaran yang hebat. Terbuka,
terutama terhadap sesuatu yang baru dan rasa ingin tahu yang besar, adalah
syarat pertama.
Yang kedua adalah kosong. “kosongkan gelasmu”, sebuah
istilah popular yang mungkin sering kita dengar. Sesuatu yang penuh tidak akan
dapat menampung apa-apa. Hanya kekosonganlah yang mempunyai nilai untuk sesuatu
yang baru. Pikiran yang penuh dengan persepsi yang ada sebelumnya, walau tidak
selalu, sering menjadi penghalang dalam proses belajar. Berbeda dengan anak
kecil yang melihat apa adanya, jauh dari sikap menghakimi. Seperti inilah sikap
mental yang harus kita miliki jika ingin belajar lebih banyak dan lebih dalam
tentang sesuatu yang baru.
Yang ketiga, dan tak kalah penting, gelas tersebut haruslah
lebih rendah daripada botol yang mengisinya. Bagaimanapun terbuka dan kosongnya
gelas, tetap tidak akan terisi jika posisi gelas itu lebih tinggi daripada
botol yang akan mengisinya. Bersikap rendah hati, menyadari bahwa masih banyak
kekurangan adalah satu syarat penting lainnya dalam belajar. Anak-anak
menyadari jika dirinya jauh dari pengalaman, anak-anak selalu menganggap orang
tua lebih tahu dari dirinya.
Teringat saya pada seseorang berjiwa jernih, Lao Tze,
seorang filsuf yang juga pencipta ajaran Taoisme. Dia pernah berkata, “Mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa
adalah awal dari kebijaksanaan.” Jika kita merasa sudah tahu semuanya, kita
akan merasa cukup. Ini bisa diibaratkan buah yang sudah matang, dan kita semua tahu
buah yang matang tak lama akan menjadi busuk. Merasa diri kurang, merasa kita
masih jauh dari pencapaian membuat kita terus belajar.
Guru
Di atas kita berbicara tentang “gelas” (murid), lalu
bagaimana dengan “botol”nya, yaitu guru. Mengapa saya menyebut dan menempatkan
sosok guru sebagai sesuatu yang agung? Dalam bahasa sansekerta, Gu artinya kegelapan dan Ru artinya menghilangkan. Jadi guru
adalah dia yang menghilangkan kegelapan. Seseorang yang membawa cahaya,
seseorang yang membawa terang pada hidup kita.
Siapakah dia? Apakah dia bapak dan ibu guru yang ada di sekolah?
Ya, tetapi bukan itu saja. Orang tua, kakak? Ya, tetapi itu baru sebagian
kecil. Lalu siapa lagi?
Setiap orang, ya setiap orang adalah guru kita. Mungkin muncul
di benak pembaca, apakah perampok, pencuri dan tukang tipu adalah guru kita? Saya
akan langsung menjawabnya dengan YA. Karena merekalah sebenarnya yang mengajari
kita lebih banyak tentang arti sebuah kejujuran dan keadilan. Kahlil Gibran,
seorang penyair besar dari Lebanon, dengan indahnya menulis:
“Aku belajar diam
dari yang cerewet, toleransi dari yang tidak toleran dan kebaikan dari yang
jahat. Namun anehnya, aku tidak pernah merasa berterima kasih kepada
guru-guruku ini.”
Apa yang ditulis oleh Gibran di atas buat saya adalah sebuah
resep istimewa dalam menghadapi “orang-orang
menyulitkan” yang sebenarnya adalah guru-guru kita.
Sejenak melayang pikiran saya pada 2.000 tahun yang lalu,
mungkin inilah yang ingin Yesus Kristus sampaikan dengan berkata, “Kasihilah musuhmu.” Seolah-olah kita
diajak untuk tidak melihat musuh sebagai sesuatu yang harus dihindari. Musuh mengajarkan
kita begitu banyak tentang kehidupan. Musuh adalah guru sejati kita, untuk
itulah kita harus mengasihinya.
Dari sudut pandang yang serupa secara praktis dalam sebuah
subjudul Richard Carlson menulis:
“Anggaplah setiap orang
yang berjalan di bumi ini sudah tercerahkan kecuali Anda sendiri.” Apa yang
ingin dikatakan oleh Richard dalam buku pertama dari seri bukunya yang berjudul
Don’t sweat the small stuff (Jangan
meributkan masalah-masalah kecil) adalah jika anda bertemu dengan
orang-orang yang membuat hati anda mendidih, jangan marah, tetapi ubahlah cara
berpikir anda bahwa orang di depan anda adalah orang yang telah tercerahkan. Dia
dikirim kepada anda oleh pencipta supaya anda belajar untuk bersabar. Bukankah orang-orang
yang menyulitkan kita adalah orang-orang yang membuat kita pintar? Siddharta “Sang
Buddha” Gautama juga pernah berkata, “Pada
akhirnya kita akan sangat-sangat berterima kasih kepada orang-orang yang
membuat diri ini sulit.”
Jika orang yang cerewet mengajari kita mendengar, yang kaku
mengajarkan kita pentingnya bersikap fleksibel, pembohong mengajarkan kita
besarnya arti kejujuran, dan mereka yang berselingkuh mengajarkan arti sebuah
kesetiaan, maka diakhir tulisan ini saya ingin mengajak pembaca untuk
mengingat-ingat orang-orang yang selama ini kita benci. Orang yang selama ini
kita hindari dan ingin membalas perbuatannya yang tidak menyenangkan kepada
kita. Setelah mengingatnya, kemudian tanyakan pada diri sendiri, apakah
pelajaran yang ingin mereka berikan kepada diri ini?
Jika kita menemukan pelajaran yang berharga dalam hidup ini
dari sahabat-sahabat tersebut, itu berarti kita telah belajar sesuatu. Dan ucapkan
terima kasih karena mereka adalah guru kita, karena mereka kita menjadi lebih
bijak.
Jadikan setiap orang
menjadi guru, setiap tempat menjadi sekolah dan setiap jam adalah jam
pelajaran.
#gobindvashdev – happinessinside
Jumat, 27 Februari 2015
Semut dan Ulat
Buah campur adalah menu tetap disetiap sarapan pagi saya. Tetapi
hari ini ada yang istimewa. Sewaktu asyik menikmatinya, seekor ulat kecil
berwarna merah yang lucu keluar dari timbunan buah yang tersusun tidak rapi di
piring bundar. Tak lama lagi seekor yang lain muncul. Terus terang, saya
terkejut melihat reaksi saya yang tidak kaget melihat ulat yang tiba-tiba
muncul tersebut. Saya ingat sekali beberapa tahun yang lalu kejadian yang hampir
sama pernah saya alami dan waktu itu saya memutuskan untuk tidak melanjutkan
makan buah itu lagi. Sama sekali tidak terlintas perasaan jijik, malah sebuah
perasaan senang bahwa sarapan pagi ini saya nikmati beramai-ramai. Saya merasakan
suatu perasaan yang sulit digambarkan. Saya melihat bahwa ulat tersebut dan
saya diciptakan oleh pencipta yang sama, dan kita sama-sama sedang mengambil energy
dari buah yang sama untuk kelangsungan hidup masing-masing. Ini mengingatkan
saya ketika saya baru saja pindah ke Ubud, kamar yang saya tempati sering
dilalui banyak semut. Semut dengan berbagai ukuran itu muncul dengan tiba-tiba.
Awalnya saya jengkel dengan kehadirannya, saya merasa terganggu, mulai dari
cairan hingga kapur pengusir serangga sudah saya gunakan untuk mengusirnya. Sampai
suatu saat, ketika saya ingin mengusirnya ada sesuatu yang berbicara dalam diri
saya, mungkin itu yang dinamakan suara hati dan berkata, “Tunggu dulu, mengapa
kamu marah?” diri saya yang lainnya menjawab, “ya dia sangat menggangguku.” Kemudian
yang pertama langsung mendebat, “Siapa mengganggu siapa? Bukankah semut-semut
itu sudah ada sebelum kamu disini atau bahkan sebelum kamar ini dibangun? Lagipula
semut-semut itu hanya mencari makanan.” “Dia bukan mencari tetapi mencuri,”
kata yang kedua. “Bukankah kita manusia juga mencuri? Kita mengambil buah dari
pohonnya, bahkan kita mengambil nyawa dari hewan untuk memenuhi kepuasan lidah
kita, jangan karena mereka tidak mengenal uang kau katakan mereka mencuri,
semut juga bekerja, mereka pasti mempunyai fungsi di alam semesta ini, sama
seperti ulat yang menggemburkan tanah dan untuknya mereka mendapat upah makanan
berupa buah dari pohon.”
Sering sekali hal ini terjadi, pergumulan saya dengan diri
saya yang lain ini awalnya sering membuat saya frustrasi. Mereka sama-sama
mempunyai alas an yang kuat, mereka sama-sama pintar memberikan argumennya. Namun,
disisi lain pergumulan ini sangatlah mencerahkan, membuat saya melihat segala sesuatunya
dari perspektif yang lain, sisi yang beda, yang lebih terang dan lebih luas.
Sewaktu di sekolah kita pasti pernah belajar tentang
evolusi, evolusi dari satu bentuk kera ke bentuk kera yang lain juga
hewan-hewan yang lain. Evolusi yang kita pelajari di sekolah adalah evolusi
fisik. Selain evolusi fisik ada juga evolusi pikiran, yaitu suatu perubahan
secara bertahap dalam tingkat pemikiran kita. Perubahan ini bukan dari tidak
tahu menjadi tahu, tetapi lebih dari sekedar tahu, lebih juga dari sekedar
mengerti atau paham, tetapi sadar. Jika seseorang tahu dan mengerti, tetapi
belum juga melakukan apa yang dia pahami, saya menyebutnya belumlah sadar. Saya
tidak mengetahui mekanisme secara terperinci dalam diri seseorang bagaimana
evolusi pikiran ini dapat tumbuh dari dalam bukan dari luar, walau sering kita
mendengar bahwa banyak faktor luar yang dapat mengubah seseorang. Ada yang
mengatakan kita bisa mendapat tingkat berpikir yang lebih baik dengan cara
belajar dari buku atau guru yang luar biasa. Ada juga yang berpendapat bahwa
pengalaman yang besar atau mengejutkan akan mengubah seseorang. Seperti berdampingan
dengan kematian, misalnya seseorang langsung tersadar dan berubah, kemudian
orang tersebut melihat hidup dengan cara yang lain, melihat begitu berharganya
setiap tarikan napas.
Ya, benar sekali, kejadian eksternal akan meningkatkan cara
berpikir seseorang jika ditambahkan sebuah syarat, dan syarat penting itu
adalah jika orang yang mengalami sebuah kejadian mengambil pelajaran darinya. Bukan
kejadian yang mengubah seseorang, tetapi orang tersebut yang mengubah dirinya
sendiri dengan mengambil pelajaran dari kejadian itu. Begitu pula bukan buku
atau orang lain yang mengubah seseorang, tetapi pelajaran yang diambil dari
buku yang dibaca atau orang lain yang dikenalinyalah yang mengubahnya. Peran seseorang
dalam mengambil pelajaran inilah yang terpenting dalam mengubah dirinya, dan
inilah yang menjadikan kita mempunyai tingkatan berpikir lebih tinggi lagi. Dan
dengan cara inilah evolusi pikiran terjadi. Jika terjadi evolusi dalam tingkat
pikiran, pastilah kita akan melihat dunia dengan cara yang berbeda. Sesuatu yang
dulu dianggap sebagai masalah, sekarang mungkin sebagai kesenangan, seperti
contoh ulat dalam buah tersebut. Albert Einstein, seorang ilmuwan yang dinobatkan
sebagai man of the century versi
majalah Time pernah menulis: ”Masalah penting yang kita hadapi tidak
dapat kita pecahkan pada tingkat berpikir yang sama seperti ketika kita menciptakan
masalah tersebut.” Tingkat berpikir yang lebih tinggi adalah hal yang wajib
diperlukan untuk memecahkan masalah. Contoh sederhananya adalah sewaktu kita
duduk di bangku sekolah dasar misalnya, semua pelajaran kelas 1 SD pada saat
kita kelas 1 SD terasa sangat sulit. Namun, ketika kita naik kelas 2, kesulitan
di kelas 1 sudah tidak terasa lagi, apalagi ketika kita naik ke kelas yang
lebih tinggi lagi. Atau pernahkah anda membaca sebuah buku dan anda tidak
mengerti apa yang anda baca, dan setelah beberapa waktu anda membaca lagi anda
mengerti apa yang dimaksud oleh buku tersebut. Jika ya, itu artinya bahwa
ketika kedua kali anda membaca, cara atau tingkat pemikiran anda sudah berubah.
Begitu juga di kehidupan, masalah hanya terjadi ketika tingkat kemampuan seseorang
tidak lebih tinggi daripada masalah tersebut. Disaat tingkat pemikiran sudah di
atas masalah maka semuanya terlihat bukan sebagai masalah.
Nah, ketika sebuah atau beberapa masalah datang berulang-ulang
dalam hidup, kita mempunyai pilihan untuk mengeluh, menyalahkan orang lain,
atau menghindarinya, atau kita ambil pendekatan yang lain, yaitu kita mencoba
belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan level berpikir kita sehingga yang
kemarin menjadi masalah hari ini menjadi sebuah kesenangan. Ingatlah disaat kemampuan kita kecil,
masalah terlihat sangat besar dan begitu kemampuan kita besar masalah-masalah
tersebut menjadi pernak-pernik kecil yang membuat kehidupan tampak berkilau.
#gobindvashdev – happinessinside
Langganan:
Postingan (Atom)